hanya sekedar tempat berekspresi, menyalurkan cerita yang tak terurai lewat suara, tempat berbagi, saat kebahagiaan terlalu berlimpah, untuk dikenang selamanya
Kamis, 28 April 2016
Pikiran
Sekalinya dibiarkan diam, tahu-tahu serangan depresi.
Tiba-tiba, tadi aku sangat merasa takut mati. Bagaimana aku bisa melakukan perjalanan meninggalkan dunia ini seorang diri. Tetiba teringat dosa-dosaku, aku takut akan karmaku. Usiaku sudah di atas 30 tahun, aku bukan lagi gadis belasan tahun dengan masa depan gilang gemilang menanti. Aku mungkin sudah separuh jalan usiaku. Siapa tahu besok aku mati, siapa yang bisa menduga. Tadi benar-benar seperti panic attack.
Selama ini, aku mengisi kekosongan hidup dengan berbagai hal, kekuatiran tentang anak-anak, tentang hal-hal kecil, tugas sekolah, hadiah ulang tahun. Dan belakangan, mungkin dengan beban pekerjaan sampingan, terjemahan. Dan setiap masa, dengan rencana kepindahan, visa, penginapan, dan lain-lain. Aku menutupi hal yang mungkin paling penting dalam hidup, tentang tujuan hidup yang sebenarnya. Aku belum siap untuk itu. Aku malah mengejar hal lain, PhD, keluar negeri. Euforia tentang hal ini sejenak mengisi kekosongan, tapi saat aku membiarkan pikiranku hening, kekosongan yang sebenarnya tetap ada.
Living in the moment, enjoy. Breathe, easily, slowly. Touch the sunshine, touch the cloud and the rain in every flower. Touch the love, the pain, the reality of life. May it flow as it might be. May you enjoy every second, the good, the bad, the happy, the sad, the joy, the pain. For it doesn't define you, doesn't even touch you at all, if you remain free.
Kamis, 21 April 2016
Medan trip february 201y
Di jalan makan biskuit momogi 2x
Jam 9 sampai tebing..owen muntah
Owen makan nasi goreng, lala nasi putih
Minum susu.
Mendekati prapat..owen muntah.
Jam 1an..sampai parapat, makan nasi putih dgn kuah baso ikan dan ikan goreng
Sore owen makan roti 1, popmie
Lala...lupa..nasi putih keknya dan susu
Jam 10an makan indomie
Jam 1 owen dan lala makan nasi putih dgn abon..lala banyakan nasi putih doank. Minum susu..berdua tidur di jalan.
Sampai siantar...jam 3an..makan siang..tp anak2 ga mau makan
Jam 5an dr kebun binatang..lala minum susu. Owen makan nasi dgn abon dan telur.
Lala minum susu, owen minum susu.
Lala tidur jam 8an di mobil
Owen sampai rumah makan kwetiau goreng.
N termyata di tuktuk banyak resto dan cafe..tp ga jadi beli juga akhirnya
Pulang ke medan hanya bertiga dengan owen lala juga membuatku sangat mampu memahami sulitnya menjadi single parent dan betapa dukungan keluarga besar menjadi sangat berarti. Selama seminggu kemarin, ke mana-mana koko yang sangat banyak membantu, menghandle anak-anak saat aku kewalahan, membantu menjaga mereka ketika di mal, dan banyak lagi, termasuk ikut memikirkan jam makan dan jam tidur anak-anak saat kami sedang berpergian.
Aku juga menyadari bahwa setiap orang memiliki nilai berbeda yang mereka anut, yang mereka hargai, yang mereka prioritaskan dalam hidup. Jujur aku lupa sih, dulu mau tulis apa tentang topik ini haha...kayaknya tentang pertentangan anak dan orang tua karena perbedaan nilai yang mereka anut. misalnya, orang tua sangat mementingkan bahwa anaknya memiliki pekerjaan yang baik, yang mapan. sementara anak mungkin lebih mengutamakan kepuasan dalam bekerja, kehangatan hubungan, dan lain-lain. alaahh..ngomong apa ini, asa ga nyambung.
pulang ke medan selalu memicuku untuk berpikir tentang bertemu teman lama, mengobrol ngalor ngidur, mengenang masa lalu, namun sayang tidak selalu kesampaian.
Minggu, 07 Februari 2016
Being alone
Senin, 12 Oktober 2015
Kekuatan impian, melampaui kemalasan
Pernah mendengar tentang ungkapan going the extra miles?? Nah...posting kali ini akan khusus membahas tentang hal ini. Ini sedikit banyak masih berkaitan dengan pemburuan beasiswa, tapi yang akan dibahas di sini adalah lebih ke pengejaran impian secara umum, jangka pendek maupun jangka panjang.
Going extra miles pertama kali aku baca di buku "negeri lima menara" karya Ahmad Fuadi. Seorang sahabat baru-baru menyinggung hal ini dalam percakapan kami. Dan belum lama ini juga, seorang teman menjadi contoh yang baik sebagai pelaku going the extra miles. Ketiga hal inilah yang menjadi inspirasi posting kali ini.
Going extra miles diartikan berbuat lebih. Jika orang lain berlatih 2 jam, maka berlatihlah 4 jam. Jika mahasiswa lain belajar 1 malam, belajarlah seminggu sebelumnya. Jika orang lain membaca 10 buku, bacalah 20 buku. Begitulah kurang lebih maknanya. Dan saya sangat meyakini kekuatan tekad ini.
Going extra miles biasanya akan diikuti dengan mestakung. Ketika kita berusaha keras, semesta pun akan mendukung.
Salah seorang teman menunjukkan contoh yang sangat baik tentang hal ini. Teman ini harus melakukan oral presentation dalam bahasa inggris di salah satu kongres. Dalam upaya untuk mengatasi kekurang percaya dirian nya akan bahasa inggris, dia kemudian menyusun transkrip dalam bahasa inggris yang baik, mengambil kutipan dari jurnal2, dan berlatih mengucapkan dan menuturkannya dengan lancar dan percaya diri dengan bantuan google. Tahu kan, kalau kita search satu kata bahasa inggris di google, selain muncul artinya, biasanya juga ada voice cara mengucapkannya. Luar biasa upayanya, tidak semua orang akan melakukannya, dan tidak sia-sia, teman saya ini kemudian meraih juara 1, dengan nilai dari presentasinya jauh melampaui peserta lain, termasuk peserta manca negara.
Saya juga menangkap hal yang sama dari seseorang yang blog nya sering saya baca. Beliau juga menuturkan bahwa setiap kali presentasi, pasti beliau akan latihan dulu, hingga ke pengaturan waktu, bahkan menyiapkan selipan jokes. Sungguh luar biasa.
Going extra miles is not just about preparation. Ada seorang teman lagi yang memang pola bekerja nya mepet2. Presentasi besok, malam ini baru menyiapkan slide. Namun saya percaya dia ini juga go extra miles. Dia pasti banyak mengisi waktu dengan bacaan bermanfaat, mengisi pikiran dengan ilmu. Jika tidak bagaimana mungkin bisa menyelesaikan slide presentasi dalam waktu sesingkat itu. He goes extra miles in his own way.
Kembali ke judul, tentang kekuatan impian dan melampaui kemalasan.
Setengah tahun lalu, aku sampai pada titik yang sangat stagnan dalam hidupku. Sebenarnya hidupku sangatlah terberkahi, aku punya keluarga, suami dan anak2 yang baik, pekerjaan yang baik. Tapi rasanya jenuh. Tahun ini adalah 10 tahun aku bekerja, mungkin aku bosan. Tapi disuruh pindah kerja pun, rasanya aku tidak ingin. Aku sangat mencintai pekerjaanku saat ini, aku menyenangi teman-teman setim dan suasana kerjanya. Tapi seperti ada yang kurang. Aku kekurangan satu hal, harapan, impian.
Dan sejak suami membolehkan aku berburu beasiswa keluar negeri, aku seperti menemukan cahaya kembali. Bulan april hingga juni itu, aku ingat sekali, setiap malam aku berburu informasi beasiswa hingga malam2. Ditambah pula, waktu itu aku sedang menerima job menerjemahkan buku. Tapi di tengah keruwetan dan beban pekerjaan yang banyak itu pula, entah kesambet apa, aku berhasil mengerjakan banyak hal, menyelesaikan terjemahan buku sesuai target, membaca puluhan jurnal dalam rangka mencari topik research dan supervisor, menyisir web kampus yang aku incar dalam memilih profesor, menyiapkan diri dan mengikuti tes ielts. Tidak jarang bergadang hingga lewat tengah malam.
Inilah kekuatan impian. It moves us forward. Seperti ada energi dan semangat. Ini bahkan membuatku lebih bahagia, somehow.
Dan ini bukan perkara berhasil atau tidak, bukan perkara menyaingi orang lain. Dengan ada impian di hati kita, yang paling penting adalah mengalahkan diri kita sendiri, melampaui kemalasan-kemalasan kita, melampaui batas-batas yang kita buat untuk diri sendiri, meningkatkan standar rasa puas dan cukup akan pencapaian kita, dengan senantiasa tetap bersyukur dan bersiap untuk yang kegagalan.
Have dream friends, and live to the fullest
Sabtu, 26 September 2015
Sahabat
Saya meyakini semua orang bisa jadi teman tapi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa jadi sahabat.
Dalam hidupku yang intovert dan sedikit anti sosial ini, temenku memang tidak banyak-banyak amat, boleh dibilang sedikit malah. Sebagian besar merupakan teman lokasi, yang menjadi teman karena memang situasi dan kondisi mendukung, misalnya teman sekolah, teman kuliah, teman kerja. Di luar tiga lingkungan itu, kayaknya aku hampir tidak punya teman lagi...😭, duh gilak miskin pergaulan banget aku ya. Untung suami bukan dari ketiga jenis teman itu, hahaha.
Tapi aku punya beberapa orang yang bisa aku sebut sahabat. Nah, aku ga tahu sih apakah mereka juga menganggap aku sahabat ya. Tapi bagi aku, itulah defenisi mereka. Apa defenisi sahabat buat aku. Hmm...coba kupikir ya. Aku rasa ada beberapa, misalnya membuat aku merasa nyaman dan jadi diri sendiri saat bersama mereka. Aku tidak perlu menyaring ulang apa yang ingin kukatakan, aku bebas bercerita tanpa takut dihakimi atau disalah artikan, kurang lebih seperti itulah. Dan aku senang-senang aja bersama mereka terus tanpa ada orang lain. Yang kedua, tidak pernah muncul situasi canggung maupun kehabisan bahan obrolan. Yang ketiga, pikiran kami saling beresonansi, dalam arti nyambung. Jika aku mengucapkan sesuatu, para sahabat biasanya menangkap dengan baik apa yang ingin kuungkapkan, begitu pula sebaliknya. Dan yang terakhir yang paling penting kurasa adalah bertemu dan berinteraksi dengan mereka itu memberiku energi, dan bukan sebaliknya menguras energi. Pernah ga sih ngerasain abis ngobrol sama orang kok rasanya malah capek banget? Nah itu pasti ga cocok jadi sahabat...haha..sotoy.
Para sahabatku, pipin, pince, witi, anggit, miswar, mba tatat, yang aku ga yakin juga apa mereka anggap aku sahabat...hahahaha....
Oh iya satu lagi, beberapa dari daftar sahabatku di atas terpisah jarak denganku, dan bahkan juga sebagian jarang bertemu, bahkan tidak lewat dunia maya sekalipun. Tapi setiap saat kami bertemu, kami langsung nyambung dan bisa berinteraksi seolah-olah kami tidak pernah berpisah jarak maupun waktu. Obrolan bisa mengalir tanpa henti. Jadi itu tambahan kriteria sahabat menurut aku, tak lekang oleh waktu maupun jarak.
Ngomong2 soal teman dan sahabat, belakangan ini aku menemukan sesuatu yang menyenangkan..aku menemukan ternyata ada 2 orang lagi teman kantorku yang ternyata berbagi buku dan pengarang favorit yang sama denganku. Walaupun aku belum bisa menyebut mereka sahabat, tapi aku merasakan reaonansi khusus tentang mereka. Aku sebut 2 orang lagi karena sebelumnya, dengan anggit dan ci marlene aku juga berbagi kecintaan yang sama terhadap buku laura inggals. Nah 2 orang lain ini, yang pertama Louisa, ternyata dia juga pembaca serial si kembar di. St. Clare. Duh..pas tahu aku girang banget, secara sepertinya belum pernah menemukan orang yang suka baca ini juga di kalangan teman-temanku. Dan dia juga suka beberapa pengarang lain yang aku suka, seperti Jody Picoult, dll. Nah, yang satu lagi lebih mencengangkan, setelah ada 5 tahunan mungkin sekantor dan 1 departemen aku baru tahu ternyata Hanny itu suka banget sama Jostein Gaarder. Duh..ke mana aja kami. Seingat aku kami beberapa kali membahas tentang buku tapi tidak pernah menyebut ttg ini. Jostein kan pengarang paling paling favoritku. Serasa bertemu soulmate. Aku yakin ke depan kami akan jadi lebih akrab. Hahahaha.
Apa ya inti tulisan ini? Hahaa..cuma ingin mention orang2 yang berarti dalam hidupku...
Minggu, 20 September 2015
Milestone
Aku mungkin bukan ibu terbaik, ilmu parentingku ku masih cetek banget. Milestone anak-anak banyak sekali yang terlewat. Masa awal-awal sebagai ibu banyak kulewatkan dengan penuh kegalauan.
Aku ingat sih beberapa momen penting seperti jam kelahiran (wakakaka), kapan owen pertama jalan, berapa lama anak-anak asi eksklusif. Tapi banyak juga hal yang kulewatkan seperti kapan mereka pertama duduk, apa kata pertama lala. Duh banget ga sihhh.
Makanya hari ini aku mencoba mencatat, satu hal yang kuanggap milestone penting dalam tumbuh kembang owen, yang bagi orang tua lain mungkin biasa saja, bukan suatu milestone. But isn't every child unique? Yang owen lakukan dan capai hari ini sudah membuat saya dan papanya bangga sekali.
Owen, anak pertama saya meskipun bawel, berani ngobrol pada siapa saja, cenderung pemalu jika harus melakukan sesuatu di depan umum, seperti menyanyi depan kelas. Sejak playgroup ini adalah concern kami yang paling besar dalam perkembangannya. Dia juga cenderung kolokan dengan saya, apa-apa maunya ditemani saya.
Nah, sebagai salah satu upaya, sudah beberapa minggu ini kami benar-benar menggiatkan membawa owen dan lala ke sekolah minggu di vihara. Dari kecil sebenarnya ada juga, tapi kebanyakan bolongnya. Baru sekarang ini jadi di rutin.
Di wihara ekayana, anak-anak seumur owen dan lala dibagi menjadi 2 kelas, metta besar dan metta kecil. Metta kecil untuk anak di bawah 4 tahun dan umumnya didampingi orang tua karena masih pada liar. Metta besar untuk di atas sama dengan 4 tahun, dan orang tua diminta tidak masuk kelas.
Pertama-tama owen dan lala sama-sama di metta kecil. Wah..kacau..sama-sama suka ngeleyotan di saya, tidak mau mengikuti kegiatan. Parah lah pokoknya. Kalau tanpa eka pasti ga kepegang dua anak. Dan owen paaif sekali. Beberapa minggu lalu, eka berinisiatif memisahkan owen ke metta besar, agar tidak manja dengan saya. Pertama-tama masi ditemani eka, tapi minggu lalu, eka hanya tunggu di luar. Dan pas saat-saat terakhir, saya intip dari luar, owen mengikuti semua kegiatan, mulai dari namaskara sampai mengikuti gerakan nyanyi.
Maka, ketika hari minggu ini eka harus kuliah dan tidak bisa menemani ke wihara, kami bertekad harus tetap bawa owen ke sekolah minggu, karena ini adalah momentum. Kalau kami tidak konsisten, mungkin nanti bisa mundur lagi.
Tapi hasil hari ini luar biasa menyenangkan kami. Saya pergi wihara hanya bertiga owen dan lala, jalan kaki, dan separuh jalan naik bajaj karena kebetulan melintas. Sampai wihara saya antar owen ke metta besar, saya titipkan pada koko pembina. Pas saya tinggal keluar ruangan, saya lihat owen sedang diajak namaskara. Setelah itu, sampai kelas selesai saya tidak menengoknya, hanya mengintip dari kejauhan, dari kelas metta kecil, kebetulan bersebelahan.
Berhasil ditinggal sendiri saja kami sudah senang luar biasa. Eh pas saya ajak makan es krim di kantin wihara, owen mengeluarkan stiker dari dalam tas. Saya tanya kok bisa dapat stiker.
"Iya, owen nyanyi", katanya.
"Nyanyi apa?
"Rain rain go away"
"Nyanyi di depan wen?"
" iya"
"Kencang-kencang ga?"
"Ga, kecil kecil saja" :)
Wuaduh...hati saya senang banget. Mau mengikuti kegiatan saja kami sudah bahagia, apalagi ini mau maju ke depan menyanyi. Soalnya di sekolah saja, saat mereka nyanyi bersama dalam lingkaran, owen biasa cuma diam, sama sekali tidak membuka mulut, boro-boro mengikuti gerakan.
Tadi pagi di mobil saat diantar papanya, owen memang nyanyi lagi itu, dan papanya pesan, nanti owen nyanyi di wihara ya. Ga nyangka ternyata owen memenuhi permintaan papanya.
Dan tadi malam menjelang tidur, saya ajak ngobrol lagi. Ternyata selama di kelas, owen sempat izin ke toilet juga. Seneeeng banget termyata dia sudah nyaman dan berani di kelasnya. Pas pulang, saya juga mengamati owen duduk tenang menunggu nama dia dipanggil untuk menerima buku absen, dan juga mengantri dengan sabar menunggu dibagikan bingkisan. This milestone, means a lot to us.
We are so proud of you baby
Rabu, 02 September 2015
Another dream, another path
Saya memendam keinginan melanjutkan sekolah keluar negeri sejak waktu yang sangat lama. Saya ingat sekelebat cerita waktu saya masih bocah ingusan. Nenek saya berkata ingin pergi keluar negeri, lalu saya bilang, iya amah nanti pergi sama saya ya. "Lah kamu punya apa memang mau ajak amah keluar negeri". Nanti saya cari beasiswa amah. Pedenya saya waktu itu.
Setahun..dua tahun..hingga sekarang 10 tahun setelah lulus kuliah S1, saya masi belum juga mewujudkan sesumbar saya waktu itu. Amah saya pun sudah meninggal lebih dari 10 tahun lalu.
Hingga tiba pada suatu siang random di bulan maret 2015, saya seperti biasa makan siang bersama asisten sekaligus sahabat baik saya di kantor. Sudah selama beberapa waktu obrolan makan siang kami berkisar antara passion dan kegalauan akan hidup kami yang terasa basi dan stagnan. Suami anggit, jagat sedang studi s2 di US dengan beasiswa fullbright. Kami bicara ttg keinginan kami keluar negeri membawa keluarga, bicara ttg pendidikan untuk anak, ttg kemungkinan berganti pekerjaan atau profesi, ttg bagaimana membuat hidup kami lebih berarti. Ohya, saya saat ini adalah ibu beranak 2, anggit sendiri memiliki 1 orang anak.
Di siang yang random itu, aku tercetus ingin kuliah lagi, tapi rasanya terhambat oleh banyak hal. Biaya, anak2, suami. Terbayang kalau kuliah di luar negeri, apakah bisa membawa anak2, bagaimana dengan suami, apakah rela meninggalkan karir dan menjaga anak selama kita kuliah? Karena situasi yang tampak hampir tidak mungkin ini, lalu saat itu aku terpikir untuk s3 di dalam negeri saja dengan melamar beasiswa LPDP. Yang kupikirkan saat itu hanyalah ingin keluar kerja, bisa lebih banyak waktu dengan anak2, namun masi ada penghasilan.
Dengan ide itu di kepala, saya pun menghadap suami. Tanggapan dari suami sungguh di luar dugaan. "Jika mau kuliah, kenapa harus di dalam negeri? Sudah, keluar negeri saja sekalian. "
Obrolan makan siang dengan anggit pun tetiba menjadi makin seru. :)
Dan saya pun mulai berburu. Googling tiap hari, namun tujuan saya hanya satu..new zealand. Tidak tahu sejak kapan, negara yang saya incar hanya satu. Ada beberapa pertimbangan sebenarnya:
1. Pendidikan anak yang baik
2. Kesempatan kerja untuk suami
3. Kemudahan membawa keluarga
4. Kampus dan profesor yang bagus dan sesuai minat.
Saya pun menetapkan pilihan, beasiswa nzidrs dan university of otago.
Dengan dukungan penuh dari suami, kami pun mempersiapkan semua persyaratan yang dibutuhkan..mulai dari mendapatkan reference letter dari mantan dosen pembimbing di bandung, hingga daftar tes ielts, mendapatkan credential evaluation report dari lembaga di uk. Ohya bagi yang ingin melamar ke nz, ini adalah syarat yang ga bisa ditawar. Walaupun uni seperti otago meminta report dari lembaga tertentu saja seperti ECE, report dari beberapa lembaga lain diakui juga. Saya kemarin melamar ke UK NARIC, yg setelah saya banding2kan, paling mudah dan juga tidak terlalu mahal. Kalau ECE, kita harus mengirimkan ijazah asli kita ke mereka, langsung panik sendiri, takut hilang. Kemudian, juga melengkapi legalisir2 dokumen, untuk yang ini, suami benar2 membantu banget. Thanks hun.
Hingga semua syarat lengkap, waktu itu, seminggu dari deadline, saya belum dapat prof yang mau bimbing. Huhu...sudah hampir putus asa. Sebelumnya sudah dpt research fellow yang mau bimbing, namun kemudian dia mundur. Di saat2 terakhir itu, email saya ke pembimbing yang saya incar pertama kali mendapatkan respon positif. Waktu tu kurang lebih 4 hari dari deadline di mana saya harus kirim aplikasi. Ohya, aplikasi nzidrs harus dikirim hardcopy ke wellington.
4 hari dan malam itu benar-benar seperti kerasukan entah apa. Malam pertama setelah menerima balasan dari si prof sekitar jam 4an, saya pun bergadang hingga jam 4 pagi menyusun research outline dan langsung mengirim ke si prof. Bangun pagi jam 6 sudah ada balasan dari si prof yang sangat2 supportif. Hari-hari berikutnya adalah waktu melengkapi aplikasi dan mengirimkan ke wellington sebelum pulang kampung menjelang libur lebaran.
Selama di kampung, saya mendadak sibuk dan deg2an setiap melihat simbol amplop di hp, menunggu harap2 cemas email dari si prof, yg sedang menyusun provisional supervision form. Kemudian saya pun melamar ke program phd otago dan juga melamar university of otago doctoral scholarship.
Setelah itu saya hanya menunggu dan menunggu hingga suatu hari di pertengahan agustus, saya mendapat kabat bahwa aplikasi phd saya disetujui dan seminggu kemudian mendapat kabar bahwa aplikasi otago doctoral scholarship saya juga disetujui. Nzidrs yang heboh banget kemarin itu malah belum ada kabar..hahaha.
Long story short, there is nothing impossible in this world. Hal yang setengah tahun lalu rasanya mustahil banget sekarang tiba2 menjadi kenyataan. Prof. Kennedy, professor saya pernah menulis di salah satu emailnya. "This scholarship (yang sedang saya lamar waktu itu), like any others are highly competitive, but until you try you will never know how it will go."
Walaupun demikian, saya mengimani, ini hanyalah awal dari perjalanan yang lebih berat, namun seperti kata quote entah dari siapa, there is no growth in comfort zone, and there is no comfort in growth zone. Seberapa sulitnya pun perjalanan nanti, saya yakin bahwa ini adalah perjalanan untuk menjadi lebih baik.
Perjalanan kemarin juga meninggalkan kesan yang sangat mendalam buat saya tentang kebaikan hati. Ada banyak sekali orang2 yang membantu saya di sepanjang perjalanan. Saya berterima kasih tak terhingga kepada Jagat Prirayani, suami anggit sahabat saya yang tanpanya semua ini tidaklah mungkin. Jagatlah yang memoles cv saya, yang kemudian menjadi andalan dalam menggaet prof, :). Juga kepada anggit yang selalu memberi semangat, kepada dosen2 yang teIah berbaik hati memberikan surat rekomendasi dan menyemangati. Kepada calon professor saya, prof martin kennedy yang telah begitu berbaik hati mendukung saya, I can't thank him enough for his continuous support, to me, a perfect stranger to him.
Dan terakhir, andil yang paling besar adalah suami saya yang senantiasa menyakinkan bahwa kami bisa. Yang ikut berjibaku ke sana kemari kemarin saat melengkapi dokumen. What I am without you.
Jumat, 08 Agustus 2014
Missing
Hari ini, jam 12 tengah malam, tiba2 kedatangan roh penulis...hahaha...roh bantal uda minta2 tidur sebenarnya, tapi karena sudah lama sekali tidak menulis,akhirnya membulatkan tekad. Tadi sore adalah hari yang istimewa. Kami memperingati 1 tahun kematian papa mertua. Dan beruntung sekali, salah satu kakak dharma kami, seorang monastik sejak beberapa tahun lalu, bersedia memenuhi undangan kami untuk memimpin doa di rumah. Terakhir ketemu Bhante Nyanabhadra ini kalau tidak salah bulan mei lalu, saat children blessing di ekayana. Beberapa tahun tidak bertemu beliau, beliau banyak berubah, ke arah yang lebih baik tentunya. Bhante sekarang tampak semakin tenang dan memberi kedamaian saat bersamanya, auranya sangat berbeda.
Tadi sore, sempat ngobrol2 sedikit dengan Bhante, dan sukses membuatku sangat merindukan vihara, merindukan retret, merindukan latihan. Setelah berbulan-bulan, malam ini bermeditasi untuk pertama kalinya.
Setelah diingat-ingat lagi, terakhir ikut retret adalah tahun 2010, persis sebelum hamil owen, ajegile, udah lama banget. Setelah itu, aku tenggelam dalam hidup rumah tangga, benar2 tenggelam, tersesat, jatuh! Hampir ga pernah ke wihara, ga pernah meditasi, ga pernah bicarain dharma, hidupku terseret, detik-detik berharga hidupku terbuang sia-sia.
Bulan lalu, saat sempat pulang bareng dengan salah satu teman, aku sebenarnya udah mendapatkan kerinduan ini kembali. Bahkan selama ini pun aku sudah merasa, ada yang kurang dalam hidupku, aku kehilangan arah.
Hari ini, seperti mendapatkan siraman air segar, hembusan angin yang menyentak membangunkan, bahagia sekali rasanya, hanya dengan duduk mengobrol dengan bhante. Ketenangan yang tak dibuat-buat, pancaran cintakasih yang terasa nyata, aku terdorong untuk ingin bersujud mengungkapkan terima kasih. Tapi itu pun rasanya belum cukup.
Terimakasih tak terhingga bhante, semoga jalan bhante senantiasa bertemu dharma, semoga bhante merealisasikan pencerahan suatu hari nanti. Doakan kami juga bhante, semoga jalan kita dapat beriringan, semoga kami juga senantiasa bertemu dharma, semoga kami juga dapat merealisasikan pencerahan suatu hari nanti.
Last, a poem from his facebook page, explaining best what i am feeling rightnow
The day is now ended
Our lives are shorter
Let us look carefully
What have we done?
Dear friends, with all our heart,
Let us be diligent,
Engaging in the practice.
Let us live deeply,
Free from our afflictions,
Aware of impermanence.
So that life does not
Drift away without meaning
Sabtu, 12 Juli 2014
Selasa, 15 April 2014
What a girl needs (my opinion)
Eniwei, topik post kali ini tentu saja bukan tentang es kelapa alpukat. Di commuterline dalam perjalanan pulang kemarin, aku ber-WA dengan salah satu teman karibku di kantor, dan entah bagaimana, obrolan bergulir sampai rencana masa depan kami (halah). Mba, teman kantorku itu bercerita kalau dia sedang menabung dan ingin berhenti kerja dan mulai merintis usaha nanti jika tabungannya sudah cukup.
Dalam beberapa minggu ini, banyak sekali cerita serupa kudengar dari teman-teman kantor, terutama ibu-ibu yang telah memiliki anak, termasuk juga diriku sendiri. Aku juga berulang kali berpikir, hal lain apa yang bisa kulakukan agar tidak usaha ngantor 9-5, agar bisa lebih banyak waktu dengan anak-anak, tapi juga tidak kehilangan penghasilan. Aku masih ingin bisa membiayai kuliah anak-anak nantinya...
dan dari obrolan dengan beberapa teman, kami sempat sampai pada kesimpulan bahwa anak perempuan sebaiknya dibekali dari awal dengan berbagai skill, seperti menari, memasak, membuat kue, menjahit, piano, balet, atau apapun itu, di luar pendidikan formal, agar ketika mereka sampai pada fase yang kami lalui sekarang ini, ada banyak pilihan yang bisa dilakukan selain ngantor resmi, haha..
Zaman aku sendiri kecil, tentu saja tidak pernah terpikir hal-hal ini, dan orang tuaku juga pasti tidak. wong dulu hidup susah, bisa sekolah sampai lulus kuliah saja, sudah bersyukur luar biasa, hal yang kalau dipikir-pikir sekarang, hampir menyerupai mujizat. Aku pun bersyukur banget orang tuaku dulu selalu berprinsip bahwa pendidikan adalah yang utama, mau sesusah apapun, anak-anak diusahakan kuliah, dan dileskan bahasa inggris dari kecil. Untuk les-les yang lain, selain tidak terpikir, memang juga tidak terjangkau.
jadi sampai udah tua kayak gini, sekarang kepikiran lagi, ingin ikut kursus lagi, apa saja, yang kira-kira sesuai dengan bakat dan minat, jadi bisa memulai usaha lain selain kerja kantoran. kemarin-kemarin kepikiran pengen kursus webmaster, tapi kata misua, bisa belajar sendiri saja kalau itu. teman-temanku ada yang mau kursus jahit, tapi aku ga yakin juga bakal punya ketelatenan bikin baju. yah, masih dalam tahap menggalau, tapi moga-moga dalam waktu dekat bisa menentukan pilihan, haha..kayak mau nikah aja.
pilihan lain tentu bisa ikut MLM, atau jadi agen asuransi, namun hingga saat ini, rasanya kok belum ada panggilan hati. Entah kalau besok-besok.
Sabtu, 12 April 2014
Australia
Mereka punya kamar mandi khusus untuk ibu membawa bayi. Jadi di kamar mandinya ada tempat buat naruh bayinya..so cool. Mereka mendukung ibu mandiri. Dan ini ga cuma di airport, tapi juga di convention centre...kamar mandi ini jadi sarang buat aku meres asi...
Norwegian Wood
Norwegian Wood adalah salah satu novel tua yang memberikan kesan memdalam kepadaku, bukan termasuk salah satu novel-novel yang bisa kubaca ulang lagi, tanpa aku ingat sama sekali ceritanya.
Dan tak tahu mengapa, tapi hatiku pilu setelah membaca Norwegian wood, novel yang indah tapi juga sekaligus menyedihkan. Membaca tentang Hatsumi-san membuatku sangat sedih. Mengapa dia bisa mencintai orang seperti itu, mengapa dia memilih hidup seperti itu. Dan Nagasawa-san, mengapa dia juga memilih hidup seperti itu. Dan dua orang yang memilih jalan hidup yang begitu berbeda, mengapa pernah mencoba berjalan bersama?
Sedih sekali rasanya. Hatsumi-san yang begitu baik, cantik, tidak mengharapkan apa-apa kecuali Nagasawa-san, tidak punya impian-impian jauh dalam hidupnya, hanya ingin menjalani hidup, jatuh cinta, mencintai, punya anak, dan hidup normal. Dan Nagasawa-san yang menginginkan begitu banyak hal, yang terus menempa diri, yang begitu egois, yang tidak pernah berpikir untuk mencintai siapapun, yang tidak pernah membutuhkan siapapun, mengapa Hatsumi-san harus jatuh cinta kepadanya? jatuh cinta kepada manusia yang tidak merasa membutuhkan siapapun dalam hidup. Alangkah melelahkan.
Dan itu semua membuatku teringat pada diriku sendiri, tentang kehidupan yang kujalani. Siapakah aku?
Apa yang aku cari?
Aku tidak tahu.
Tapi aku sungguh merasa bersyukur atas apa yang kumiliki. "Dia" yang selalu ada buat aku, 'dia' yang sama sekali tidak sama dengan Nagasawa-san, 'dia' yang masih ada sampai hari ini buatku. terimakasihku yang terdalam untukmu. Tidur nyenyak malam ini...^^
Jumat, 21 Februari 2014
Apakah aku bahagia?
And sadly, aku sampai pada kesimpulan bahwa aku rasanya tidak terlalu bahagia.
Lalu aku mulai menganalisis mengapa aku bisa sampai pada kondisi ini? Dengan kondisi keduniawianku saat ini, aku harusnya mudah berbahagia. Aku berhasil mendapatkan pendidikan yang baik, meskipun latar belakang keluarga yang sederhana, aku memiliki karier yang baik, bahkan termasuk beruntung jika membandingkan dengan teman-temanku, dengan kompensasi yang cukup baik. Secara finansial, aku tidak kesulitan walaupun tentu bukan konglomerat. Di atas semua itu, aku memiliki keluarga yang baik. Aku memiliki suami yang luar biasa,sepasang anak-anak yang lucu, cerdas,dan sehat, rumah yang mapan. Apa lagi yang kurang coba?
Namun setelah menganalisa, aku menemukan bahwa ada beberapa faktor yang membuatku merasa tidak cukup.
1. Aku belum menyelesaikan mimpiku. I have not fulfill my circle.
Aku pernah membaca blog yang menganalisis, bahwa untuk menjadi seorang pemimpin negara yang baik, orang itu harus merasa sudah cukup dengan dirinya, sudah meraih semua mimpinya, dan aku rasanya belum mencapai tahap itu.
Waktu remaja, aku tergila-gila pada antariksa dan astronomi. Memandang langit malam adalah sumber kedamaianku. Namun ketika memilih major saat kuliah, aku memiliih realitas dan tidak berani mengejar mimpi. Sammpai saat ini, aku tidak tahu apakah keputusanku itu benar. Walaupun aku tidak menyesali kompetensiku saat ini, aku masih sering bertanya-tanya, bagaimana jadinya jika waktu itu aku berani memilih jalanku sendiri.
Impianku yang lain yang juga belum terwujud adalah kuliah atau stay di luar negeri. Aku dulu di bandung selama 5 tahun,namun sekarang di jakarta, aku sudah tinggal melebihi 8 tahun, bertahan di perusahaan yang sama pula, haha. Aku rindu perubahan, aku membayangkan petualangan, di tempat baru, bertemu orang-orang baru. Di atas semua itu,aku ingin membuktikan diriku bahwa aku pantas mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Namun sejak dulu, aku tidak berani mengambil langkah. Aku memikirkan keluargaku, dan sekarang lebih-lebih aku memikirkan anak-anakku. Namun mungkin itu semua hanya kedok saja, toh banyak juga mereka yang telah berkeluarga dan ber-anak memilih untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. entahlah..sejauh ini, aku hanya merasa pengorbanan yang mungkin harus terjadi seperti kehilangan suatu periode dari masa kanak-kanak mereka tidak sepadan dengan impian ini.
Anyhow, aku rasa faktor ini menyumbang salah satu sisi dari ketidakbahagiaanku, walaupun tidak besar. Sebenarnya ketidakbahagiaan mungkin kata yang pas. aku hanya merasa belum fulfilled.
2. Aku memiliki terlalu banyak kecemasan dan kekuatiran.
Terlebih-lebih sejak memiliki anak, aku rasanya jadi paranoid. Aku cemas akan kesehatan mereka, cemas akan akhlak mereka, cemas akan pola tidur, pola makan, karakter, dan banyak lagi yang lain. Aku sendiri pun merasa, this is too much already. Masa aku lebih hapal periode-periode mereka sakit, daripada periode-periode mereka membuat milestone yang bearti. benar-benar sudah tidak sehat. Namun sampai saat ini pun, aku belum punya cara untuk mengatasi perasaan ini.
di luar itu, banyak kecemasan dan kegamangan kecil yang lain yang hinggap silih berganti dalam pikiranku, bagaimana jika aku mati, bagaimana jika hubby ku mati, begitu banyak penyakit di dunia ini, dan lain-lain, dan lain-lain.
Belum lagi kekuatiran-kekuatiran kecil tentang pandangan orang, tentang moralku yang tidak cukup baik.
3. Aku tidak yakin akan tujuan hidupku.
Benar lo, kadang-kadang aku sampai pada kegamangan tingkat kronis, aku ngapain si hidup, mau cari apa sih.
hhhh....moga-moga aku bisa segera menata hatiku dan menemukan makna hidup
4. Aku kurang percaya diri dan terlalu dependent.
Terutama setelah berpacaran dan menikah, pelan-pelan aku menjadi semakin dependent dengan suami. kemana-mana ada yang nganterin. Mau ngapa-ngapain, kalau hubby belum kasih lampu hijau, rasanya kadang-kadang aku tidak percaya diri.
Begitu pula dalam mengurus anak, aku bukan ibu super yang bisa mengelola semuanya dengan baik. Kadang-kadang suka stres sendiri..
Yah rasanya kurang lebih itulah penyebab-penyebab kegalauan hatiku, haha..moga-moga dengan menuliskan ini, aku bisa menemukan diriku yang lebih berbahagia...semangattt....
PS. btw, ada ga ya yang merasa seperti aku ini? Atau apa aku ternyata tidak sehat jiwa??? tidaaaaaaaaaaaaaaakk.....
Sabtu, 04 Januari 2014
Hidup tanpa PRT
Untung Hubby masih libur, Jadi aku masih bisa kerja.
Tapi hidup tanpa PRT seperti ini aku rasa membuatku lebih hidup, lebih menghargai waktu, lebih giat.
Kemarin-kemarin, saat ada 2 PRT, rasanya waktu tiap hari habis begitu saja, tidak pernah sempat mengerjakan apapun. Sekarang, setelah anak-anak tidur, masih harus membulatkan tekat untuk menyetrika.
Hubby pun jadi lebih terlibat dalam aktivitas anak-anak dan rumah.
Untuk jangka pendek, rasanya masih tetap butuh PRT sih, selama anak-anak masih kecil, dan kami berdua masih kerja.
Tapi urusan dengan PRT2 ini yang sering kali bikin emosi jiwa, semakin membulatkan tekadnya untuk secepatnya bebas dari bantuan mereka, untuk hidup lebih mandiri.
Senin, 25 November 2013
Desiderata
Sebenarnya kami jarang sekali berkunjung ke tetangga, apalagi sejak punya anak, waktu-waktu di rumah yang terasa sudah sangat sedikit, sudah terisi penuh dengan jadwal bersama anak-anak. Namun, saya bersyukur bahwa hubby adalah orang yang sangat sosialis, mudah bergaul, dan punya kepedulian tinggi kepada sesama. Saya bersyukur karena diajak mengunjungi Bapak ini, untuk selanjutnya kita sebut saja Bapak I.
Dari apa yang diceritakan Hubby, Bapak I memiliki 3 orang anak perempuan, semuanya sudah tanpa suami (entah bercerai, entah meninggal). Salah satu anaknya menderita kanker, yang baru saja meninggal. Istrinya sendiri juga sakit, bahkan waktu kami berkunjung kemarin, istrinya juga terlihat sedang meminum obat. Di rumah itu, kemarin saya melihat ada 3 anak kecil dan 1 anak remaja. 1 anak remaja, dan salah satu anak kecil, adalah anak dari anaknya yang baru meninggal, dua anak dari dua bapak yang berbeda, dan ke-2 bapak yang tidak pernah ada. Anak yang kecil memiliki sedikit gangguan sosial, katanya selama ini, dia sangat dekat dengan ibunya, dan hanya mau ke sekolah jika diantar ibunya. Sudah dua bulan dia tidak bersekolah, karena penyakit ibunya memburuk, (dan kemudian meninggal).
Kembali ke Bapak I, sewaktu kami berkunjung kemarin, kami bertemu di kamar beliau di lantai 2 rumahnya. Beliau sekarang menghabiskan hampir seluruh waktunya di kamar tersebut, karena penyakitnya. Beliau hanya turun seminggu sekali, untuk sholat jumat di mesjid. Selebihnya, beliau memilih tinggal di atas, karena perjalanan naik turun tangga sudah terasa terlalu berat baginya. Bahkan saat berbicara, beliau pun sudah terlihat cukup ngos-ngosan.
Dan tanpa bermaksud menghina atau merendahkan, kondisi kamar beliau sungguh membuat hatiku miris. kamar yang tidak terlalu besar, dengan 1 kasur besar, 1 tabung oksigen cukup besar di sisi kiri kasur, 1 alat nebulizer di sisi kanan kasur, lemari baju terbuka, dengan baju tergantung rapi di belakang kasur, TV, berbagai bacaan, dan dilengkapi pula dengan gelas bekas susu, piring bekas makan, dan beberapa ketidak rapian lainnya. Hanya ditemani kipas angin, kamar ini pun terasa cukup sumpek.
Namun beliau tidak sedikit pun menyesali hidupnya. Rasanya mudah bagi siapapun untuk mengeluh dengan kondisi seperti itu, dengan tubuh yang tidak berdaya untuk melakukan banyak hal, mungkin bahkan untuk hanya sekadar membersihkan piring bekas makan. Obrolan sewaktu kita berkunjung lebih kepada bagaimana kami bisa membantu cucunya yang kecil, yang ibunya baru saja meninggal, dan tentang kenapa beliau masih bersemangat menjalani hidup. Tidak ada satu pun keluhan yang terbersit dari kata-kata maupun bahasa tubuh.
Beliau membuatku bercermin pada diri sendiri, betapa sering aku mengeluh hanya karena owen tidur terlalu malam, sehingga istirahatku kurang, dan tubuh terasa "sedikit" lebih lelah; padahal beliau tentu merasa lelah sepanjang waktu. Betapa sering juga aku mengeluh bahwa hubby kurang perhatian; sementara beliau masih harus mengurus diri sendiri di tengah penyakitnya. Sering pula aku lupa bersyukur atas karunia dua anak-anak sehat dan lucu yang kupunya, yang bisa kucintai dan mencintaiku tanpa syarat dan tanpa batas - dan kadang mengeluh atas kurangnya "me time" yang kupunya. Betapa banyak keterbatasan beliau di tengah penyakitnya, namun toh tetap mengusahakan untuk mengikuti sholat jumat di mesjid; sementara aku sering membuang waktu dalam kemalasan.
Biarlah kututup cerita ini dengan puisi desiderata, yang kurasa cukup menggambarkan semangat hidup Bapak I ini:
Desiderata
Go placidly amid the noise and haste, and remember what peace there may be in silence.
As far as possible without surrender be on good terms with all persons.
Speak your truth quietly and clearly; and listen to others, even the dull and ignorant; they too have their story.
Avoid loud and aggressive persons, they are vexations to the spirit.
If you compare yourself with others, you may become vain and bitter;
for always there will be greater and lesser persons than yourself.
Enjoy your achievements as well as your plans.
Keep interested in your career, however humble; it is a real possession in the changing fortunes of time.
Exercise caution in your business affairs; for the world is full of trickery.
But let this not blind you to what virtue there is; many persons strive for high ideals;
and everywhere life is full of heroism.
Be yourself.
Especially, do not feign affection.
Neither be critical about love; for in the face of all aridity and disenchantment it is as perennial as the grass.
Take kindly the counsel of the years, gracefully surrendering the things of youth.
Nurture strength of spirit to shield you in sudden misfortune. But do not distress yourself with imaginings.
Many fears are born of fatigue and loneliness. Beyond a wholesome discipline, be gentle with yourself.
You are a child of the universe, no less than the trees and the stars;
you have a right to be here.
And whether or not it is clear to you, no doubt the universe is unfolding as it should.
Therefore be at peace with God, whatever you conceive Him to be,
and whatever your labors and aspirations, in the noisy confusion of life keep peace with your soul.
With all its sham, drudgery and broken dreams, it is still a beautiful world. Be careful. Strive to be happy.
© Max Ehrmann 1927