Pulang kerja kemarin, akhirnya mencoba es kelapa alpukat untuk pertama kalinya, dan ternyata...enak banget lo. Selama ini menyangka pasti rasanya aneh, kelapa dicampur dengan alpukat, tapi ternyata nyam nyam. Padahal kemarin beli itu hanya karena es kelapa nangka-nya sedang kosong.
Eniwei, topik post kali ini tentu saja bukan tentang es kelapa alpukat. Di commuterline dalam perjalanan pulang kemarin, aku ber-WA dengan salah satu teman karibku di kantor, dan entah bagaimana, obrolan bergulir sampai rencana masa depan kami (halah). Mba, teman kantorku itu bercerita kalau dia sedang menabung dan ingin berhenti kerja dan mulai merintis usaha nanti jika tabungannya sudah cukup.
Dalam beberapa minggu ini, banyak sekali cerita serupa kudengar dari teman-teman kantor, terutama ibu-ibu yang telah memiliki anak, termasuk juga diriku sendiri. Aku juga berulang kali berpikir, hal lain apa yang bisa kulakukan agar tidak usaha ngantor 9-5, agar bisa lebih banyak waktu dengan anak-anak, tapi juga tidak kehilangan penghasilan. Aku masih ingin bisa membiayai kuliah anak-anak nantinya...
dan dari obrolan dengan beberapa teman, kami sempat sampai pada kesimpulan bahwa anak perempuan sebaiknya dibekali dari awal dengan berbagai skill, seperti menari, memasak, membuat kue, menjahit, piano, balet, atau apapun itu, di luar pendidikan formal, agar ketika mereka sampai pada fase yang kami lalui sekarang ini, ada banyak pilihan yang bisa dilakukan selain ngantor resmi, haha..
Zaman aku sendiri kecil, tentu saja tidak pernah terpikir hal-hal ini, dan orang tuaku juga pasti tidak. wong dulu hidup susah, bisa sekolah sampai lulus kuliah saja, sudah bersyukur luar biasa, hal yang kalau dipikir-pikir sekarang, hampir menyerupai mujizat. Aku pun bersyukur banget orang tuaku dulu selalu berprinsip bahwa pendidikan adalah yang utama, mau sesusah apapun, anak-anak diusahakan kuliah, dan dileskan bahasa inggris dari kecil. Untuk les-les yang lain, selain tidak terpikir, memang juga tidak terjangkau.
jadi sampai udah tua kayak gini, sekarang kepikiran lagi, ingin ikut kursus lagi, apa saja, yang kira-kira sesuai dengan bakat dan minat, jadi bisa memulai usaha lain selain kerja kantoran. kemarin-kemarin kepikiran pengen kursus webmaster, tapi kata misua, bisa belajar sendiri saja kalau itu. teman-temanku ada yang mau kursus jahit, tapi aku ga yakin juga bakal punya ketelatenan bikin baju. yah, masih dalam tahap menggalau, tapi moga-moga dalam waktu dekat bisa menentukan pilihan, haha..kayak mau nikah aja.
pilihan lain tentu bisa ikut MLM, atau jadi agen asuransi, namun hingga saat ini, rasanya kok belum ada panggilan hati. Entah kalau besok-besok.
hanya sekedar tempat berekspresi, menyalurkan cerita yang tak terurai lewat suara, tempat berbagi, saat kebahagiaan terlalu berlimpah, untuk dikenang selamanya
Selasa, 15 April 2014
Sabtu, 12 April 2014
Australia
Mumpung masih segar dalam ingatan...pengen nulis sesuatu tentang travelling kali ini. Being in australia for the first time is absolutely exciting, but cannot compare the awful feeling of leaving the kids at home. Dani terus mencoba tidak terlalu kepikiran, karna katanya nanti mereka ikut kepikiran juga (entah bener ga teori ini....#$@£*). Anyway..memikirkan rumah hanya bikin makin awful karna tidak ada yang bisa dilakukan.
First impression about australia:
Mereka punya kamar mandi khusus untuk ibu membawa bayi. Jadi di kamar mandinya ada tempat buat naruh bayinya..so cool. Mereka mendukung ibu mandiri. Dan ini ga cuma di airport, tapi juga di convention centre...kamar mandi ini jadi sarang buat aku meres asi...
Mereka punya kamar mandi khusus untuk ibu membawa bayi. Jadi di kamar mandinya ada tempat buat naruh bayinya..so cool. Mereka mendukung ibu mandiri. Dan ini ga cuma di airport, tapi juga di convention centre...kamar mandi ini jadi sarang buat aku meres asi...
Orang2nya? Biasa aja si..ada yang ramah,ada juga yang tampk dingin.
Lingkungan? Jelas bersih...bersih banget malah. Perbandingan land dengan manusianya juga tampaknya gede banget. Jalan2 cenderung lengang. Terasa lapang dan tenang. Dan langitnya tampak bersih...bintang2 bertaburan..aku jatuh cinta dengan langitnya...
Tidak konsumtif. Sulit sekali menemukan tempat belanja (atau entah kalau kami yang dodol dan tidak menemukannya waktu di Melbourne). Tapi dari kemarin yang terlihat adalah museum, gedung pertjnjukan, iklan pertunjukan macbeth, swan lake. Sungguh masyarakat yang kultural.
Gaya hidup sehat. Di semua gerai penjual makanan, selain gambar makanan, dan harga,selalu tertera jumlah kalorinya dalam kj.
Dan cukup jarang menemukan orang obese di sini.
Salah satu yang berkesan juga adalah saat salah turun bus dalam perjalanan ke Koala Sanctuary di Lone Pine, Brisbane. me and my colleague stucked in the middle of nowhere...with astonishing view. Tampaknya seperti daerah pegunungan di puncak begitu, namun jauh lebih sepi dan tampak damai. Di kiri kanan, terdapat rumah-rumah dengan halaman luas dan mungkin hutan di baliknya..#ingin deh punya satu di situ, must be a nice place to stay. ongkos naik bus dari pusat kota brisbane juga hanya 7 AUD, cukup murah, karena ongkos naik bus di dalam kota, yang hanya selang 2 bus stop, biayanya 5 AUD something.
Tapi kesan baik tentang Aussie sedikit tercoreng juga di hari-hari terakhir. Misalnya saat sarapan di cafe depan apartment, kasirnya lupa (atau pura-pura lupa) memberikan uang kembalian. Dan saat sudah setengah jalan ke convention centre dan kembali untuk memintanya, doi sepertinya sama sekali tidak ingat (atau pura-pura tidak ingat). Lalu sempat juga memberikan kembalian yang kurang. Dan di hari terakhir, pagi-pagi saat menunggu taksi ke bandara, dua orang lelaki melintas depan apartment, jelas abis mabuk-mabukan semalaman, jalannya masih tidak lurus, dan tercium bau alkohol.
But you cannot expect something like perfect country or city I think.
overall, I understand why a lot of the rich from Indonesia move or have house in Australia. Walaupun dalam perjalanan ini kemarin, ada juga orang yang tidak betah karena terlalu sepi katanya. Jadi orang ini tinggal sendiri di jakarta, sementara anak istrinya tinggal di Melbourne. yah..everyone has their own choice.
Norwegian Wood
Norwegian Wood adalah salah satu novel tua yang memberikan kesan memdalam kepadaku, bukan termasuk salah satu novel-novel yang bisa kubaca ulang lagi, tanpa aku ingat sama sekali ceritanya.
Dan tak tahu mengapa, tapi hatiku pilu setelah membaca Norwegian wood, novel yang indah tapi juga sekaligus menyedihkan. Membaca tentang Hatsumi-san membuatku sangat sedih. Mengapa dia bisa mencintai orang seperti itu, mengapa dia memilih hidup seperti itu. Dan Nagasawa-san, mengapa dia juga memilih hidup seperti itu. Dan dua orang yang memilih jalan hidup yang begitu berbeda, mengapa pernah mencoba berjalan bersama?
Sedih sekali rasanya. Hatsumi-san yang begitu baik, cantik, tidak mengharapkan apa-apa kecuali Nagasawa-san, tidak punya impian-impian jauh dalam hidupnya, hanya ingin menjalani hidup, jatuh cinta, mencintai, punya anak, dan hidup normal. Dan Nagasawa-san yang menginginkan begitu banyak hal, yang terus menempa diri, yang begitu egois, yang tidak pernah berpikir untuk mencintai siapapun, yang tidak pernah membutuhkan siapapun, mengapa Hatsumi-san harus jatuh cinta kepadanya? jatuh cinta kepada manusia yang tidak merasa membutuhkan siapapun dalam hidup. Alangkah melelahkan.
Dan itu semua membuatku teringat pada diriku sendiri, tentang kehidupan yang kujalani. Siapakah aku?
Apa yang aku cari?
Aku tidak tahu.
Tapi aku sungguh merasa bersyukur atas apa yang kumiliki. "Dia" yang selalu ada buat aku, 'dia' yang sama sekali tidak sama dengan Nagasawa-san, 'dia' yang masih ada sampai hari ini buatku. terimakasihku yang terdalam untukmu. Tidur nyenyak malam ini...^^
Jumat, 21 Februari 2014
Apakah aku bahagia?
Sepanjang ini, dari sejak menjelang siang, hingga perjalanan pulang dari kantor tadi, aku banyak berkontemplasi...cieee..haha..maksudnya melamun denk, tentang salah satu pertanyaan paling penting dalam hidup ini, apakah aku baha.gia saat ini.
And sadly, aku sampai pada kesimpulan bahwa aku rasanya tidak terlalu bahagia.
Lalu aku mulai menganalisis mengapa aku bisa sampai pada kondisi ini? Dengan kondisi keduniawianku saat ini, aku harusnya mudah berbahagia. Aku berhasil mendapatkan pendidikan yang baik, meskipun latar belakang keluarga yang sederhana, aku memiliki karier yang baik, bahkan termasuk beruntung jika membandingkan dengan teman-temanku, dengan kompensasi yang cukup baik. Secara finansial, aku tidak kesulitan walaupun tentu bukan konglomerat. Di atas semua itu, aku memiliki keluarga yang baik. Aku memiliki suami yang luar biasa,sepasang anak-anak yang lucu, cerdas,dan sehat, rumah yang mapan. Apa lagi yang kurang coba?
Namun setelah menganalisa, aku menemukan bahwa ada beberapa faktor yang membuatku merasa tidak cukup.
1. Aku belum menyelesaikan mimpiku. I have not fulfill my circle.
Aku pernah membaca blog yang menganalisis, bahwa untuk menjadi seorang pemimpin negara yang baik, orang itu harus merasa sudah cukup dengan dirinya, sudah meraih semua mimpinya, dan aku rasanya belum mencapai tahap itu.
Waktu remaja, aku tergila-gila pada antariksa dan astronomi. Memandang langit malam adalah sumber kedamaianku. Namun ketika memilih major saat kuliah, aku memiliih realitas dan tidak berani mengejar mimpi. Sammpai saat ini, aku tidak tahu apakah keputusanku itu benar. Walaupun aku tidak menyesali kompetensiku saat ini, aku masih sering bertanya-tanya, bagaimana jadinya jika waktu itu aku berani memilih jalanku sendiri.
Impianku yang lain yang juga belum terwujud adalah kuliah atau stay di luar negeri. Aku dulu di bandung selama 5 tahun,namun sekarang di jakarta, aku sudah tinggal melebihi 8 tahun, bertahan di perusahaan yang sama pula, haha. Aku rindu perubahan, aku membayangkan petualangan, di tempat baru, bertemu orang-orang baru. Di atas semua itu,aku ingin membuktikan diriku bahwa aku pantas mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Namun sejak dulu, aku tidak berani mengambil langkah. Aku memikirkan keluargaku, dan sekarang lebih-lebih aku memikirkan anak-anakku. Namun mungkin itu semua hanya kedok saja, toh banyak juga mereka yang telah berkeluarga dan ber-anak memilih untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. entahlah..sejauh ini, aku hanya merasa pengorbanan yang mungkin harus terjadi seperti kehilangan suatu periode dari masa kanak-kanak mereka tidak sepadan dengan impian ini.
Anyhow, aku rasa faktor ini menyumbang salah satu sisi dari ketidakbahagiaanku, walaupun tidak besar. Sebenarnya ketidakbahagiaan mungkin kata yang pas. aku hanya merasa belum fulfilled.
2. Aku memiliki terlalu banyak kecemasan dan kekuatiran.
Terlebih-lebih sejak memiliki anak, aku rasanya jadi paranoid. Aku cemas akan kesehatan mereka, cemas akan akhlak mereka, cemas akan pola tidur, pola makan, karakter, dan banyak lagi yang lain. Aku sendiri pun merasa, this is too much already. Masa aku lebih hapal periode-periode mereka sakit, daripada periode-periode mereka membuat milestone yang bearti. benar-benar sudah tidak sehat. Namun sampai saat ini pun, aku belum punya cara untuk mengatasi perasaan ini.
di luar itu, banyak kecemasan dan kegamangan kecil yang lain yang hinggap silih berganti dalam pikiranku, bagaimana jika aku mati, bagaimana jika hubby ku mati, begitu banyak penyakit di dunia ini, dan lain-lain, dan lain-lain.
Belum lagi kekuatiran-kekuatiran kecil tentang pandangan orang, tentang moralku yang tidak cukup baik.
3. Aku tidak yakin akan tujuan hidupku.
Benar lo, kadang-kadang aku sampai pada kegamangan tingkat kronis, aku ngapain si hidup, mau cari apa sih.
hhhh....moga-moga aku bisa segera menata hatiku dan menemukan makna hidup
4. Aku kurang percaya diri dan terlalu dependent.
Terutama setelah berpacaran dan menikah, pelan-pelan aku menjadi semakin dependent dengan suami. kemana-mana ada yang nganterin. Mau ngapa-ngapain, kalau hubby belum kasih lampu hijau, rasanya kadang-kadang aku tidak percaya diri.
Begitu pula dalam mengurus anak, aku bukan ibu super yang bisa mengelola semuanya dengan baik. Kadang-kadang suka stres sendiri..
Yah rasanya kurang lebih itulah penyebab-penyebab kegalauan hatiku, haha..moga-moga dengan menuliskan ini, aku bisa menemukan diriku yang lebih berbahagia...semangattt....
PS. btw, ada ga ya yang merasa seperti aku ini? Atau apa aku ternyata tidak sehat jiwa??? tidaaaaaaaaaaaaaaakk.....
And sadly, aku sampai pada kesimpulan bahwa aku rasanya tidak terlalu bahagia.
Lalu aku mulai menganalisis mengapa aku bisa sampai pada kondisi ini? Dengan kondisi keduniawianku saat ini, aku harusnya mudah berbahagia. Aku berhasil mendapatkan pendidikan yang baik, meskipun latar belakang keluarga yang sederhana, aku memiliki karier yang baik, bahkan termasuk beruntung jika membandingkan dengan teman-temanku, dengan kompensasi yang cukup baik. Secara finansial, aku tidak kesulitan walaupun tentu bukan konglomerat. Di atas semua itu, aku memiliki keluarga yang baik. Aku memiliki suami yang luar biasa,sepasang anak-anak yang lucu, cerdas,dan sehat, rumah yang mapan. Apa lagi yang kurang coba?
Namun setelah menganalisa, aku menemukan bahwa ada beberapa faktor yang membuatku merasa tidak cukup.
1. Aku belum menyelesaikan mimpiku. I have not fulfill my circle.
Aku pernah membaca blog yang menganalisis, bahwa untuk menjadi seorang pemimpin negara yang baik, orang itu harus merasa sudah cukup dengan dirinya, sudah meraih semua mimpinya, dan aku rasanya belum mencapai tahap itu.
Waktu remaja, aku tergila-gila pada antariksa dan astronomi. Memandang langit malam adalah sumber kedamaianku. Namun ketika memilih major saat kuliah, aku memiliih realitas dan tidak berani mengejar mimpi. Sammpai saat ini, aku tidak tahu apakah keputusanku itu benar. Walaupun aku tidak menyesali kompetensiku saat ini, aku masih sering bertanya-tanya, bagaimana jadinya jika waktu itu aku berani memilih jalanku sendiri.
Impianku yang lain yang juga belum terwujud adalah kuliah atau stay di luar negeri. Aku dulu di bandung selama 5 tahun,namun sekarang di jakarta, aku sudah tinggal melebihi 8 tahun, bertahan di perusahaan yang sama pula, haha. Aku rindu perubahan, aku membayangkan petualangan, di tempat baru, bertemu orang-orang baru. Di atas semua itu,aku ingin membuktikan diriku bahwa aku pantas mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Namun sejak dulu, aku tidak berani mengambil langkah. Aku memikirkan keluargaku, dan sekarang lebih-lebih aku memikirkan anak-anakku. Namun mungkin itu semua hanya kedok saja, toh banyak juga mereka yang telah berkeluarga dan ber-anak memilih untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. entahlah..sejauh ini, aku hanya merasa pengorbanan yang mungkin harus terjadi seperti kehilangan suatu periode dari masa kanak-kanak mereka tidak sepadan dengan impian ini.
Anyhow, aku rasa faktor ini menyumbang salah satu sisi dari ketidakbahagiaanku, walaupun tidak besar. Sebenarnya ketidakbahagiaan mungkin kata yang pas. aku hanya merasa belum fulfilled.
2. Aku memiliki terlalu banyak kecemasan dan kekuatiran.
Terlebih-lebih sejak memiliki anak, aku rasanya jadi paranoid. Aku cemas akan kesehatan mereka, cemas akan akhlak mereka, cemas akan pola tidur, pola makan, karakter, dan banyak lagi yang lain. Aku sendiri pun merasa, this is too much already. Masa aku lebih hapal periode-periode mereka sakit, daripada periode-periode mereka membuat milestone yang bearti. benar-benar sudah tidak sehat. Namun sampai saat ini pun, aku belum punya cara untuk mengatasi perasaan ini.
di luar itu, banyak kecemasan dan kegamangan kecil yang lain yang hinggap silih berganti dalam pikiranku, bagaimana jika aku mati, bagaimana jika hubby ku mati, begitu banyak penyakit di dunia ini, dan lain-lain, dan lain-lain.
Belum lagi kekuatiran-kekuatiran kecil tentang pandangan orang, tentang moralku yang tidak cukup baik.
3. Aku tidak yakin akan tujuan hidupku.
Benar lo, kadang-kadang aku sampai pada kegamangan tingkat kronis, aku ngapain si hidup, mau cari apa sih.
hhhh....moga-moga aku bisa segera menata hatiku dan menemukan makna hidup
4. Aku kurang percaya diri dan terlalu dependent.
Terutama setelah berpacaran dan menikah, pelan-pelan aku menjadi semakin dependent dengan suami. kemana-mana ada yang nganterin. Mau ngapa-ngapain, kalau hubby belum kasih lampu hijau, rasanya kadang-kadang aku tidak percaya diri.
Begitu pula dalam mengurus anak, aku bukan ibu super yang bisa mengelola semuanya dengan baik. Kadang-kadang suka stres sendiri..
Yah rasanya kurang lebih itulah penyebab-penyebab kegalauan hatiku, haha..moga-moga dengan menuliskan ini, aku bisa menemukan diriku yang lebih berbahagia...semangattt....
PS. btw, ada ga ya yang merasa seperti aku ini? Atau apa aku ternyata tidak sehat jiwa??? tidaaaaaaaaaaaaaaakk.....
Sabtu, 04 Januari 2014
Hidup tanpa PRT
Sudah seminggu ini, hidup benar-benar tanpa PRT, baru pertama kalinya sejak punya anak 2 ini. Bahkan PRT yang pulang hari untuk mengerjakan cucian pun mendadak pulang kampung.
Untung Hubby masih libur, Jadi aku masih bisa kerja.
Tapi hidup tanpa PRT seperti ini aku rasa membuatku lebih hidup, lebih menghargai waktu, lebih giat.
Kemarin-kemarin, saat ada 2 PRT, rasanya waktu tiap hari habis begitu saja, tidak pernah sempat mengerjakan apapun. Sekarang, setelah anak-anak tidur, masih harus membulatkan tekat untuk menyetrika.
Hubby pun jadi lebih terlibat dalam aktivitas anak-anak dan rumah.
Untuk jangka pendek, rasanya masih tetap butuh PRT sih, selama anak-anak masih kecil, dan kami berdua masih kerja.
Tapi urusan dengan PRT2 ini yang sering kali bikin emosi jiwa, semakin membulatkan tekadnya untuk secepatnya bebas dari bantuan mereka, untuk hidup lebih mandiri.
Untung Hubby masih libur, Jadi aku masih bisa kerja.
Tapi hidup tanpa PRT seperti ini aku rasa membuatku lebih hidup, lebih menghargai waktu, lebih giat.
Kemarin-kemarin, saat ada 2 PRT, rasanya waktu tiap hari habis begitu saja, tidak pernah sempat mengerjakan apapun. Sekarang, setelah anak-anak tidur, masih harus membulatkan tekat untuk menyetrika.
Hubby pun jadi lebih terlibat dalam aktivitas anak-anak dan rumah.
Untuk jangka pendek, rasanya masih tetap butuh PRT sih, selama anak-anak masih kecil, dan kami berdua masih kerja.
Tapi urusan dengan PRT2 ini yang sering kali bikin emosi jiwa, semakin membulatkan tekadnya untuk secepatnya bebas dari bantuan mereka, untuk hidup lebih mandiri.
Senin, 25 November 2013
Desiderata
Beberapa malam yang lalu, kami (saya, hubby, dan owen) mengunjungi salah satu tetangga kami yang baru saja ditimpa kemalangan, salah satu anaknya meninggal karena kanker, tanpa suami, dan meninggalkan 2 orang anak. Sang Bapak sendiri, yang merupakan teman ngobrol Bapak Mertua semasa hidup, juga menderita sakit, emphysema, yang merupakan salah satu jenis COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease). Yang ingin saya ceritakan dalam postingan kali ini adalah tentang bapak ini, yang semangat hidup dan kelapangan hatinya sungguh menginspirasi saya.
Sebenarnya kami jarang sekali berkunjung ke tetangga, apalagi sejak punya anak, waktu-waktu di rumah yang terasa sudah sangat sedikit, sudah terisi penuh dengan jadwal bersama anak-anak. Namun, saya bersyukur bahwa hubby adalah orang yang sangat sosialis, mudah bergaul, dan punya kepedulian tinggi kepada sesama. Saya bersyukur karena diajak mengunjungi Bapak ini, untuk selanjutnya kita sebut saja Bapak I.
Dari apa yang diceritakan Hubby, Bapak I memiliki 3 orang anak perempuan, semuanya sudah tanpa suami (entah bercerai, entah meninggal). Salah satu anaknya menderita kanker, yang baru saja meninggal. Istrinya sendiri juga sakit, bahkan waktu kami berkunjung kemarin, istrinya juga terlihat sedang meminum obat. Di rumah itu, kemarin saya melihat ada 3 anak kecil dan 1 anak remaja. 1 anak remaja, dan salah satu anak kecil, adalah anak dari anaknya yang baru meninggal, dua anak dari dua bapak yang berbeda, dan ke-2 bapak yang tidak pernah ada. Anak yang kecil memiliki sedikit gangguan sosial, katanya selama ini, dia sangat dekat dengan ibunya, dan hanya mau ke sekolah jika diantar ibunya. Sudah dua bulan dia tidak bersekolah, karena penyakit ibunya memburuk, (dan kemudian meninggal).
Kembali ke Bapak I, sewaktu kami berkunjung kemarin, kami bertemu di kamar beliau di lantai 2 rumahnya. Beliau sekarang menghabiskan hampir seluruh waktunya di kamar tersebut, karena penyakitnya. Beliau hanya turun seminggu sekali, untuk sholat jumat di mesjid. Selebihnya, beliau memilih tinggal di atas, karena perjalanan naik turun tangga sudah terasa terlalu berat baginya. Bahkan saat berbicara, beliau pun sudah terlihat cukup ngos-ngosan.
Dan tanpa bermaksud menghina atau merendahkan, kondisi kamar beliau sungguh membuat hatiku miris. kamar yang tidak terlalu besar, dengan 1 kasur besar, 1 tabung oksigen cukup besar di sisi kiri kasur, 1 alat nebulizer di sisi kanan kasur, lemari baju terbuka, dengan baju tergantung rapi di belakang kasur, TV, berbagai bacaan, dan dilengkapi pula dengan gelas bekas susu, piring bekas makan, dan beberapa ketidak rapian lainnya. Hanya ditemani kipas angin, kamar ini pun terasa cukup sumpek.
Namun beliau tidak sedikit pun menyesali hidupnya. Rasanya mudah bagi siapapun untuk mengeluh dengan kondisi seperti itu, dengan tubuh yang tidak berdaya untuk melakukan banyak hal, mungkin bahkan untuk hanya sekadar membersihkan piring bekas makan. Obrolan sewaktu kita berkunjung lebih kepada bagaimana kami bisa membantu cucunya yang kecil, yang ibunya baru saja meninggal, dan tentang kenapa beliau masih bersemangat menjalani hidup. Tidak ada satu pun keluhan yang terbersit dari kata-kata maupun bahasa tubuh.
Beliau membuatku bercermin pada diri sendiri, betapa sering aku mengeluh hanya karena owen tidur terlalu malam, sehingga istirahatku kurang, dan tubuh terasa "sedikit" lebih lelah; padahal beliau tentu merasa lelah sepanjang waktu. Betapa sering juga aku mengeluh bahwa hubby kurang perhatian; sementara beliau masih harus mengurus diri sendiri di tengah penyakitnya. Sering pula aku lupa bersyukur atas karunia dua anak-anak sehat dan lucu yang kupunya, yang bisa kucintai dan mencintaiku tanpa syarat dan tanpa batas - dan kadang mengeluh atas kurangnya "me time" yang kupunya. Betapa banyak keterbatasan beliau di tengah penyakitnya, namun toh tetap mengusahakan untuk mengikuti sholat jumat di mesjid; sementara aku sering membuang waktu dalam kemalasan.
Biarlah kututup cerita ini dengan puisi desiderata, yang kurasa cukup menggambarkan semangat hidup Bapak I ini:
Desiderata
Go placidly amid the noise and haste, and remember what peace there may be in silence.
As far as possible without surrender be on good terms with all persons.
Speak your truth quietly and clearly; and listen to others, even the dull and ignorant; they too have their story.
Avoid loud and aggressive persons, they are vexations to the spirit.
If you compare yourself with others, you may become vain and bitter;
for always there will be greater and lesser persons than yourself.
Enjoy your achievements as well as your plans.
Keep interested in your career, however humble; it is a real possession in the changing fortunes of time.
Exercise caution in your business affairs; for the world is full of trickery.
But let this not blind you to what virtue there is; many persons strive for high ideals;
and everywhere life is full of heroism.
Be yourself.
Especially, do not feign affection.
Neither be critical about love; for in the face of all aridity and disenchantment it is as perennial as the grass.
Take kindly the counsel of the years, gracefully surrendering the things of youth.
Nurture strength of spirit to shield you in sudden misfortune. But do not distress yourself with imaginings.
Many fears are born of fatigue and loneliness. Beyond a wholesome discipline, be gentle with yourself.
You are a child of the universe, no less than the trees and the stars;
you have a right to be here.
And whether or not it is clear to you, no doubt the universe is unfolding as it should.
Therefore be at peace with God, whatever you conceive Him to be,
and whatever your labors and aspirations, in the noisy confusion of life keep peace with your soul.
With all its sham, drudgery and broken dreams, it is still a beautiful world. Be careful. Strive to be happy.
© Max Ehrmann 1927
Sebenarnya kami jarang sekali berkunjung ke tetangga, apalagi sejak punya anak, waktu-waktu di rumah yang terasa sudah sangat sedikit, sudah terisi penuh dengan jadwal bersama anak-anak. Namun, saya bersyukur bahwa hubby adalah orang yang sangat sosialis, mudah bergaul, dan punya kepedulian tinggi kepada sesama. Saya bersyukur karena diajak mengunjungi Bapak ini, untuk selanjutnya kita sebut saja Bapak I.
Dari apa yang diceritakan Hubby, Bapak I memiliki 3 orang anak perempuan, semuanya sudah tanpa suami (entah bercerai, entah meninggal). Salah satu anaknya menderita kanker, yang baru saja meninggal. Istrinya sendiri juga sakit, bahkan waktu kami berkunjung kemarin, istrinya juga terlihat sedang meminum obat. Di rumah itu, kemarin saya melihat ada 3 anak kecil dan 1 anak remaja. 1 anak remaja, dan salah satu anak kecil, adalah anak dari anaknya yang baru meninggal, dua anak dari dua bapak yang berbeda, dan ke-2 bapak yang tidak pernah ada. Anak yang kecil memiliki sedikit gangguan sosial, katanya selama ini, dia sangat dekat dengan ibunya, dan hanya mau ke sekolah jika diantar ibunya. Sudah dua bulan dia tidak bersekolah, karena penyakit ibunya memburuk, (dan kemudian meninggal).
Kembali ke Bapak I, sewaktu kami berkunjung kemarin, kami bertemu di kamar beliau di lantai 2 rumahnya. Beliau sekarang menghabiskan hampir seluruh waktunya di kamar tersebut, karena penyakitnya. Beliau hanya turun seminggu sekali, untuk sholat jumat di mesjid. Selebihnya, beliau memilih tinggal di atas, karena perjalanan naik turun tangga sudah terasa terlalu berat baginya. Bahkan saat berbicara, beliau pun sudah terlihat cukup ngos-ngosan.
Dan tanpa bermaksud menghina atau merendahkan, kondisi kamar beliau sungguh membuat hatiku miris. kamar yang tidak terlalu besar, dengan 1 kasur besar, 1 tabung oksigen cukup besar di sisi kiri kasur, 1 alat nebulizer di sisi kanan kasur, lemari baju terbuka, dengan baju tergantung rapi di belakang kasur, TV, berbagai bacaan, dan dilengkapi pula dengan gelas bekas susu, piring bekas makan, dan beberapa ketidak rapian lainnya. Hanya ditemani kipas angin, kamar ini pun terasa cukup sumpek.
Namun beliau tidak sedikit pun menyesali hidupnya. Rasanya mudah bagi siapapun untuk mengeluh dengan kondisi seperti itu, dengan tubuh yang tidak berdaya untuk melakukan banyak hal, mungkin bahkan untuk hanya sekadar membersihkan piring bekas makan. Obrolan sewaktu kita berkunjung lebih kepada bagaimana kami bisa membantu cucunya yang kecil, yang ibunya baru saja meninggal, dan tentang kenapa beliau masih bersemangat menjalani hidup. Tidak ada satu pun keluhan yang terbersit dari kata-kata maupun bahasa tubuh.
Beliau membuatku bercermin pada diri sendiri, betapa sering aku mengeluh hanya karena owen tidur terlalu malam, sehingga istirahatku kurang, dan tubuh terasa "sedikit" lebih lelah; padahal beliau tentu merasa lelah sepanjang waktu. Betapa sering juga aku mengeluh bahwa hubby kurang perhatian; sementara beliau masih harus mengurus diri sendiri di tengah penyakitnya. Sering pula aku lupa bersyukur atas karunia dua anak-anak sehat dan lucu yang kupunya, yang bisa kucintai dan mencintaiku tanpa syarat dan tanpa batas - dan kadang mengeluh atas kurangnya "me time" yang kupunya. Betapa banyak keterbatasan beliau di tengah penyakitnya, namun toh tetap mengusahakan untuk mengikuti sholat jumat di mesjid; sementara aku sering membuang waktu dalam kemalasan.
Biarlah kututup cerita ini dengan puisi desiderata, yang kurasa cukup menggambarkan semangat hidup Bapak I ini:
Desiderata
Go placidly amid the noise and haste, and remember what peace there may be in silence.
As far as possible without surrender be on good terms with all persons.
Speak your truth quietly and clearly; and listen to others, even the dull and ignorant; they too have their story.
Avoid loud and aggressive persons, they are vexations to the spirit.
If you compare yourself with others, you may become vain and bitter;
for always there will be greater and lesser persons than yourself.
Enjoy your achievements as well as your plans.
Keep interested in your career, however humble; it is a real possession in the changing fortunes of time.
Exercise caution in your business affairs; for the world is full of trickery.
But let this not blind you to what virtue there is; many persons strive for high ideals;
and everywhere life is full of heroism.
Be yourself.
Especially, do not feign affection.
Neither be critical about love; for in the face of all aridity and disenchantment it is as perennial as the grass.
Take kindly the counsel of the years, gracefully surrendering the things of youth.
Nurture strength of spirit to shield you in sudden misfortune. But do not distress yourself with imaginings.
Many fears are born of fatigue and loneliness. Beyond a wholesome discipline, be gentle with yourself.
You are a child of the universe, no less than the trees and the stars;
you have a right to be here.
And whether or not it is clear to you, no doubt the universe is unfolding as it should.
Therefore be at peace with God, whatever you conceive Him to be,
and whatever your labors and aspirations, in the noisy confusion of life keep peace with your soul.
With all its sham, drudgery and broken dreams, it is still a beautiful world. Be careful. Strive to be happy.
© Max Ehrmann 1927
Rabu, 30 Januari 2013
Welcoming my little angel, Vimala Dharani Rianto
22 januari 2013
Malam-malam, kok ngerasa perut agak ga enak ya. Kandungan dede memang sudah memasuki minggu ke-38. Jam 9 malam, merasa panik sendiri setelah sempat mules beberapa kali. Tapi setelah telp dengan mba tatat, rasanya ini bukan kontraksi mau melahirkan. . Mungkin hanya kecapean karena 2 hari ini banyak pergi-pergi dan menghabiskan waktu bermacet ria di mobil. Sampai pagi, untung tidak mules lagi. Sebenarnya tidak apa-apa juga kalau mau melahirkan, toh sudah 38 minggu, tapi tetap saja, sempat terucap juga, de, jangan lahir dulu ya..minggu depan saja, kerjaan mama masih belum beres, :(.
23 januari 2013
Di kantor seperti biasa. Perutku juga sempat terasa tidak enak, mules beberapa kali, tapi tanpa frekuensi yang jelas. mungkin ini kontraksi palsu.
24 januari 2013
Hari libur, menghabiskan waktu di rumah. Belanja bulanan. tidak ada perkembangan kontraksi
25 januari 2013
Kerja lagi. Sampai sore, jam 6, kerjaan tetap belum selesai juga, huhuhu...malamnya kontrol ke dokter. Sempat merasa terancam dengan kemungkinan induksi lagi jika minggu drpan belum lahiran juga...*panik....
26 januari 2013
Terbangun jam 1 dini hari, perut terasa sakit. Ke kamar mandi, pikirku mungkin mau pup (n sempat pup juga si, hehe)
Bikin susu buat owen, tidur lagi
jam 02.00. terbangun lagi, perut sakit lagi
jam 03.00. lagi-lagi sakit
jam 04.00. terbangun, dan tidak bisa tidur lagi. perut sakitnya semakin sering. masih berpikir mungkin karena mau pup.
Eka pun terbangun, dan ngajak ke rumah sakit. Aku masih ragu-ragu, karena rasa sakitnya belum terlalu hebat, dan frekuensinya pun tidak teratur seperti kata orang, mula-mula sejam, setengah jam, 15 menit, lalu 10 menit. Mulai jam 04 ini, tiba-tiba kadang-kadang 5 menit, trus sepuluh menit, tidak teratur. Aku ngusulin gimana kalau ke bidan dekat rumah saja, ngecek dulu apakah benar ini kontraksi mau melahirkan. Eka tidak setuju, karena selama ini ga pernah kontrol ke bidan, ga enak juga tiba-tiba datang, pagi-pagi subuh pula.
Jam 5 kurang, akhirnya berangkat ke hermina, setelah menjemput neneknya owen buat nemainin owen yang masih tidur.
Sampai hermina, langsung di bawah ke ruang persalinan (namanya VK), dicek sama bidan, eng ing eng..sudah bukaan 3-4. Astaga naga..
dipasang alat CTG, lalu rekam jantung bayi cukup lama...20-30 menitan.
Tanya suster, dokter yudianto sudah dihubungi belum? Katanya sudah, dktrnya kebetulan ada jadwal caesar jam 05.30 pagi itu. Syukur, pas banget, jadi ga akan nanti mau lahiran nunggu-nunggu dokter.
jam 6-an, dr. Yudianto datang, ga ngapa2in, cuma bilang, sabar ya. Ya iyalah, kalau ga sabar, mau gimana lagi dok....tapi paling ga lega, sudah yakin dokternya sudah stand by.
jam 7an..sudah bukaan 8-9. disuruh ngeden, tak lama pecah ketuban. Setelah itu proses seakan lambat banget, padahal sakitnya sudah semakin kuat. Katanya kepala bayinya belum turun. Tapi sakitnya memang tak seberapa dibanding waktu ngelahirin owen dulu. Sakit diinduksi memang jauh lebih sakit.
Jam 07.40an..pas ngeden, tiba-tiba kepala dede sudah muncul, eh..sama suster nya disuruh nahan, nunggu dokter dulu..wah, mana bisa sus...dianya mau keluar sendiri, haha..alhasil, pas dokter datang, kepala dede udah nongol, tinggal keluarin badannya aja. Akhirnya jam 07.48, dede Vimala lahir...langsung imd, sambil dokternya keluarin placenta, pasang IUD, dan jahit. Terasa banget bedanya dibanding ditangani dr. N pas lahiran owen. dulu dktrnya jahit sambl telp-an. Ini, dr. Yudi ngerjain sambil benar-benar perhatian, minta maaf setiap kali prosesnya bikin ga nyaman.
Lega sekali rasanya. Prosesnya cepat, lancar, hanya sayang imdnya ga sampai berhasil mencapai puting susu. Kata suster si, memang jarang yang sampai berhasil, kecuali dibantuin karena ga sabar. Tapi yang penting prosesnya kok.
Dede lahir 2,788 kg, panjang 46 cm, di 39 minggu.
di tulisan ini, mau mengucapkan terimakasih buat :
- Papa owen dan vimala, yang udah sabar dan selalu siaga dari sejak kehamilan owen, lahiran owen, kehamilan hingga kelahiran vimala.
- Dr. Yudianto, yang udah nangani kehamilan vimala sejak awal, yang udah bantuin banyak banget, baek moral maupun materi (selalu gratis dari kontrol hingga proses lahiran juga). Terasa banget bedanya kehamilan ini, kontrol ga pernah galau, selalu dapat jawaban. beda banget ma kehamilan owen yang ketemu dr. kandungan yang aneh-aneh bin ajaib, yang bikin sakit hati dan was-was tiap kontrol. So lucky..
- Para suster dan bidan di VK RS. Hermina Bekasi yang udah sabar-sabar
- Owen, yang udah ditinggalin selama lahiran, dan jadi anak baik
- Kakek dan Nenek Owen yang udah perhatian banget, dan mau dititipin owen selama masa-masa sibuk.
- Mba Ros, Mina, dan Kus yang udah ngebantuin jagain owen dan beresin Rumah. Trims khusus buat Mina yang udah banyak banget bntuin selama hamil kali ini,sehingga diet selama hamil bisa terjaga baik.
- semua keluarga dan teman-teman yang udah bantuin..
Haha..moga-moga tidak terasa lebay...
Sekarang dede sedang kuning dan masih disinar. Doain dede Vimala cepat sehat dan pulang ke rumah ya....
Malam-malam, kok ngerasa perut agak ga enak ya. Kandungan dede memang sudah memasuki minggu ke-38. Jam 9 malam, merasa panik sendiri setelah sempat mules beberapa kali. Tapi setelah telp dengan mba tatat, rasanya ini bukan kontraksi mau melahirkan. . Mungkin hanya kecapean karena 2 hari ini banyak pergi-pergi dan menghabiskan waktu bermacet ria di mobil. Sampai pagi, untung tidak mules lagi. Sebenarnya tidak apa-apa juga kalau mau melahirkan, toh sudah 38 minggu, tapi tetap saja, sempat terucap juga, de, jangan lahir dulu ya..minggu depan saja, kerjaan mama masih belum beres, :(.
23 januari 2013
Di kantor seperti biasa. Perutku juga sempat terasa tidak enak, mules beberapa kali, tapi tanpa frekuensi yang jelas. mungkin ini kontraksi palsu.
24 januari 2013
Hari libur, menghabiskan waktu di rumah. Belanja bulanan. tidak ada perkembangan kontraksi
25 januari 2013
Kerja lagi. Sampai sore, jam 6, kerjaan tetap belum selesai juga, huhuhu...malamnya kontrol ke dokter. Sempat merasa terancam dengan kemungkinan induksi lagi jika minggu drpan belum lahiran juga...*panik....
26 januari 2013
Terbangun jam 1 dini hari, perut terasa sakit. Ke kamar mandi, pikirku mungkin mau pup (n sempat pup juga si, hehe)
Bikin susu buat owen, tidur lagi
jam 02.00. terbangun lagi, perut sakit lagi
jam 03.00. lagi-lagi sakit
jam 04.00. terbangun, dan tidak bisa tidur lagi. perut sakitnya semakin sering. masih berpikir mungkin karena mau pup.
Eka pun terbangun, dan ngajak ke rumah sakit. Aku masih ragu-ragu, karena rasa sakitnya belum terlalu hebat, dan frekuensinya pun tidak teratur seperti kata orang, mula-mula sejam, setengah jam, 15 menit, lalu 10 menit. Mulai jam 04 ini, tiba-tiba kadang-kadang 5 menit, trus sepuluh menit, tidak teratur. Aku ngusulin gimana kalau ke bidan dekat rumah saja, ngecek dulu apakah benar ini kontraksi mau melahirkan. Eka tidak setuju, karena selama ini ga pernah kontrol ke bidan, ga enak juga tiba-tiba datang, pagi-pagi subuh pula.
Jam 5 kurang, akhirnya berangkat ke hermina, setelah menjemput neneknya owen buat nemainin owen yang masih tidur.
Sampai hermina, langsung di bawah ke ruang persalinan (namanya VK), dicek sama bidan, eng ing eng..sudah bukaan 3-4. Astaga naga..
dipasang alat CTG, lalu rekam jantung bayi cukup lama...20-30 menitan.
Tanya suster, dokter yudianto sudah dihubungi belum? Katanya sudah, dktrnya kebetulan ada jadwal caesar jam 05.30 pagi itu. Syukur, pas banget, jadi ga akan nanti mau lahiran nunggu-nunggu dokter.
jam 6-an, dr. Yudianto datang, ga ngapa2in, cuma bilang, sabar ya. Ya iyalah, kalau ga sabar, mau gimana lagi dok....tapi paling ga lega, sudah yakin dokternya sudah stand by.
jam 7an..sudah bukaan 8-9. disuruh ngeden, tak lama pecah ketuban. Setelah itu proses seakan lambat banget, padahal sakitnya sudah semakin kuat. Katanya kepala bayinya belum turun. Tapi sakitnya memang tak seberapa dibanding waktu ngelahirin owen dulu. Sakit diinduksi memang jauh lebih sakit.
Jam 07.40an..pas ngeden, tiba-tiba kepala dede sudah muncul, eh..sama suster nya disuruh nahan, nunggu dokter dulu..wah, mana bisa sus...dianya mau keluar sendiri, haha..alhasil, pas dokter datang, kepala dede udah nongol, tinggal keluarin badannya aja. Akhirnya jam 07.48, dede Vimala lahir...langsung imd, sambil dokternya keluarin placenta, pasang IUD, dan jahit. Terasa banget bedanya dibanding ditangani dr. N pas lahiran owen. dulu dktrnya jahit sambl telp-an. Ini, dr. Yudi ngerjain sambil benar-benar perhatian, minta maaf setiap kali prosesnya bikin ga nyaman.
Lega sekali rasanya. Prosesnya cepat, lancar, hanya sayang imdnya ga sampai berhasil mencapai puting susu. Kata suster si, memang jarang yang sampai berhasil, kecuali dibantuin karena ga sabar. Tapi yang penting prosesnya kok.
Dede lahir 2,788 kg, panjang 46 cm, di 39 minggu.
di tulisan ini, mau mengucapkan terimakasih buat :
- Papa owen dan vimala, yang udah sabar dan selalu siaga dari sejak kehamilan owen, lahiran owen, kehamilan hingga kelahiran vimala.
- Dr. Yudianto, yang udah nangani kehamilan vimala sejak awal, yang udah bantuin banyak banget, baek moral maupun materi (selalu gratis dari kontrol hingga proses lahiran juga). Terasa banget bedanya kehamilan ini, kontrol ga pernah galau, selalu dapat jawaban. beda banget ma kehamilan owen yang ketemu dr. kandungan yang aneh-aneh bin ajaib, yang bikin sakit hati dan was-was tiap kontrol. So lucky..
- Para suster dan bidan di VK RS. Hermina Bekasi yang udah sabar-sabar
- Owen, yang udah ditinggalin selama lahiran, dan jadi anak baik
- Kakek dan Nenek Owen yang udah perhatian banget, dan mau dititipin owen selama masa-masa sibuk.
- Mba Ros, Mina, dan Kus yang udah ngebantuin jagain owen dan beresin Rumah. Trims khusus buat Mina yang udah banyak banget bntuin selama hamil kali ini,sehingga diet selama hamil bisa terjaga baik.
- semua keluarga dan teman-teman yang udah bantuin..
Haha..moga-moga tidak terasa lebay...
Sekarang dede sedang kuning dan masih disinar. Doain dede Vimala cepat sehat dan pulang ke rumah ya....
Langganan:
Postingan (Atom)