Sudah seminggu ini, hidup benar-benar tanpa PRT, baru pertama kalinya sejak punya anak 2 ini. Bahkan PRT yang pulang hari untuk mengerjakan cucian pun mendadak pulang kampung.
Untung Hubby masih libur, Jadi aku masih bisa kerja.
Tapi hidup tanpa PRT seperti ini aku rasa membuatku lebih hidup, lebih menghargai waktu, lebih giat.
Kemarin-kemarin, saat ada 2 PRT, rasanya waktu tiap hari habis begitu saja, tidak pernah sempat mengerjakan apapun. Sekarang, setelah anak-anak tidur, masih harus membulatkan tekat untuk menyetrika.
Hubby pun jadi lebih terlibat dalam aktivitas anak-anak dan rumah.
Untuk jangka pendek, rasanya masih tetap butuh PRT sih, selama anak-anak masih kecil, dan kami berdua masih kerja.
Tapi urusan dengan PRT2 ini yang sering kali bikin emosi jiwa, semakin membulatkan tekadnya untuk secepatnya bebas dari bantuan mereka, untuk hidup lebih mandiri.
hanya sekedar tempat berekspresi, menyalurkan cerita yang tak terurai lewat suara, tempat berbagi, saat kebahagiaan terlalu berlimpah, untuk dikenang selamanya
Sabtu, 04 Januari 2014
Senin, 25 November 2013
Desiderata
Beberapa malam yang lalu, kami (saya, hubby, dan owen) mengunjungi salah satu tetangga kami yang baru saja ditimpa kemalangan, salah satu anaknya meninggal karena kanker, tanpa suami, dan meninggalkan 2 orang anak. Sang Bapak sendiri, yang merupakan teman ngobrol Bapak Mertua semasa hidup, juga menderita sakit, emphysema, yang merupakan salah satu jenis COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease). Yang ingin saya ceritakan dalam postingan kali ini adalah tentang bapak ini, yang semangat hidup dan kelapangan hatinya sungguh menginspirasi saya.
Sebenarnya kami jarang sekali berkunjung ke tetangga, apalagi sejak punya anak, waktu-waktu di rumah yang terasa sudah sangat sedikit, sudah terisi penuh dengan jadwal bersama anak-anak. Namun, saya bersyukur bahwa hubby adalah orang yang sangat sosialis, mudah bergaul, dan punya kepedulian tinggi kepada sesama. Saya bersyukur karena diajak mengunjungi Bapak ini, untuk selanjutnya kita sebut saja Bapak I.
Dari apa yang diceritakan Hubby, Bapak I memiliki 3 orang anak perempuan, semuanya sudah tanpa suami (entah bercerai, entah meninggal). Salah satu anaknya menderita kanker, yang baru saja meninggal. Istrinya sendiri juga sakit, bahkan waktu kami berkunjung kemarin, istrinya juga terlihat sedang meminum obat. Di rumah itu, kemarin saya melihat ada 3 anak kecil dan 1 anak remaja. 1 anak remaja, dan salah satu anak kecil, adalah anak dari anaknya yang baru meninggal, dua anak dari dua bapak yang berbeda, dan ke-2 bapak yang tidak pernah ada. Anak yang kecil memiliki sedikit gangguan sosial, katanya selama ini, dia sangat dekat dengan ibunya, dan hanya mau ke sekolah jika diantar ibunya. Sudah dua bulan dia tidak bersekolah, karena penyakit ibunya memburuk, (dan kemudian meninggal).
Kembali ke Bapak I, sewaktu kami berkunjung kemarin, kami bertemu di kamar beliau di lantai 2 rumahnya. Beliau sekarang menghabiskan hampir seluruh waktunya di kamar tersebut, karena penyakitnya. Beliau hanya turun seminggu sekali, untuk sholat jumat di mesjid. Selebihnya, beliau memilih tinggal di atas, karena perjalanan naik turun tangga sudah terasa terlalu berat baginya. Bahkan saat berbicara, beliau pun sudah terlihat cukup ngos-ngosan.
Dan tanpa bermaksud menghina atau merendahkan, kondisi kamar beliau sungguh membuat hatiku miris. kamar yang tidak terlalu besar, dengan 1 kasur besar, 1 tabung oksigen cukup besar di sisi kiri kasur, 1 alat nebulizer di sisi kanan kasur, lemari baju terbuka, dengan baju tergantung rapi di belakang kasur, TV, berbagai bacaan, dan dilengkapi pula dengan gelas bekas susu, piring bekas makan, dan beberapa ketidak rapian lainnya. Hanya ditemani kipas angin, kamar ini pun terasa cukup sumpek.
Namun beliau tidak sedikit pun menyesali hidupnya. Rasanya mudah bagi siapapun untuk mengeluh dengan kondisi seperti itu, dengan tubuh yang tidak berdaya untuk melakukan banyak hal, mungkin bahkan untuk hanya sekadar membersihkan piring bekas makan. Obrolan sewaktu kita berkunjung lebih kepada bagaimana kami bisa membantu cucunya yang kecil, yang ibunya baru saja meninggal, dan tentang kenapa beliau masih bersemangat menjalani hidup. Tidak ada satu pun keluhan yang terbersit dari kata-kata maupun bahasa tubuh.
Beliau membuatku bercermin pada diri sendiri, betapa sering aku mengeluh hanya karena owen tidur terlalu malam, sehingga istirahatku kurang, dan tubuh terasa "sedikit" lebih lelah; padahal beliau tentu merasa lelah sepanjang waktu. Betapa sering juga aku mengeluh bahwa hubby kurang perhatian; sementara beliau masih harus mengurus diri sendiri di tengah penyakitnya. Sering pula aku lupa bersyukur atas karunia dua anak-anak sehat dan lucu yang kupunya, yang bisa kucintai dan mencintaiku tanpa syarat dan tanpa batas - dan kadang mengeluh atas kurangnya "me time" yang kupunya. Betapa banyak keterbatasan beliau di tengah penyakitnya, namun toh tetap mengusahakan untuk mengikuti sholat jumat di mesjid; sementara aku sering membuang waktu dalam kemalasan.
Biarlah kututup cerita ini dengan puisi desiderata, yang kurasa cukup menggambarkan semangat hidup Bapak I ini:
Desiderata
Go placidly amid the noise and haste, and remember what peace there may be in silence.
As far as possible without surrender be on good terms with all persons.
Speak your truth quietly and clearly; and listen to others, even the dull and ignorant; they too have their story.
Avoid loud and aggressive persons, they are vexations to the spirit.
If you compare yourself with others, you may become vain and bitter;
for always there will be greater and lesser persons than yourself.
Enjoy your achievements as well as your plans.
Keep interested in your career, however humble; it is a real possession in the changing fortunes of time.
Exercise caution in your business affairs; for the world is full of trickery.
But let this not blind you to what virtue there is; many persons strive for high ideals;
and everywhere life is full of heroism.
Be yourself.
Especially, do not feign affection.
Neither be critical about love; for in the face of all aridity and disenchantment it is as perennial as the grass.
Take kindly the counsel of the years, gracefully surrendering the things of youth.
Nurture strength of spirit to shield you in sudden misfortune. But do not distress yourself with imaginings.
Many fears are born of fatigue and loneliness. Beyond a wholesome discipline, be gentle with yourself.
You are a child of the universe, no less than the trees and the stars;
you have a right to be here.
And whether or not it is clear to you, no doubt the universe is unfolding as it should.
Therefore be at peace with God, whatever you conceive Him to be,
and whatever your labors and aspirations, in the noisy confusion of life keep peace with your soul.
With all its sham, drudgery and broken dreams, it is still a beautiful world. Be careful. Strive to be happy.
© Max Ehrmann 1927
Sebenarnya kami jarang sekali berkunjung ke tetangga, apalagi sejak punya anak, waktu-waktu di rumah yang terasa sudah sangat sedikit, sudah terisi penuh dengan jadwal bersama anak-anak. Namun, saya bersyukur bahwa hubby adalah orang yang sangat sosialis, mudah bergaul, dan punya kepedulian tinggi kepada sesama. Saya bersyukur karena diajak mengunjungi Bapak ini, untuk selanjutnya kita sebut saja Bapak I.
Dari apa yang diceritakan Hubby, Bapak I memiliki 3 orang anak perempuan, semuanya sudah tanpa suami (entah bercerai, entah meninggal). Salah satu anaknya menderita kanker, yang baru saja meninggal. Istrinya sendiri juga sakit, bahkan waktu kami berkunjung kemarin, istrinya juga terlihat sedang meminum obat. Di rumah itu, kemarin saya melihat ada 3 anak kecil dan 1 anak remaja. 1 anak remaja, dan salah satu anak kecil, adalah anak dari anaknya yang baru meninggal, dua anak dari dua bapak yang berbeda, dan ke-2 bapak yang tidak pernah ada. Anak yang kecil memiliki sedikit gangguan sosial, katanya selama ini, dia sangat dekat dengan ibunya, dan hanya mau ke sekolah jika diantar ibunya. Sudah dua bulan dia tidak bersekolah, karena penyakit ibunya memburuk, (dan kemudian meninggal).
Kembali ke Bapak I, sewaktu kami berkunjung kemarin, kami bertemu di kamar beliau di lantai 2 rumahnya. Beliau sekarang menghabiskan hampir seluruh waktunya di kamar tersebut, karena penyakitnya. Beliau hanya turun seminggu sekali, untuk sholat jumat di mesjid. Selebihnya, beliau memilih tinggal di atas, karena perjalanan naik turun tangga sudah terasa terlalu berat baginya. Bahkan saat berbicara, beliau pun sudah terlihat cukup ngos-ngosan.
Dan tanpa bermaksud menghina atau merendahkan, kondisi kamar beliau sungguh membuat hatiku miris. kamar yang tidak terlalu besar, dengan 1 kasur besar, 1 tabung oksigen cukup besar di sisi kiri kasur, 1 alat nebulizer di sisi kanan kasur, lemari baju terbuka, dengan baju tergantung rapi di belakang kasur, TV, berbagai bacaan, dan dilengkapi pula dengan gelas bekas susu, piring bekas makan, dan beberapa ketidak rapian lainnya. Hanya ditemani kipas angin, kamar ini pun terasa cukup sumpek.
Namun beliau tidak sedikit pun menyesali hidupnya. Rasanya mudah bagi siapapun untuk mengeluh dengan kondisi seperti itu, dengan tubuh yang tidak berdaya untuk melakukan banyak hal, mungkin bahkan untuk hanya sekadar membersihkan piring bekas makan. Obrolan sewaktu kita berkunjung lebih kepada bagaimana kami bisa membantu cucunya yang kecil, yang ibunya baru saja meninggal, dan tentang kenapa beliau masih bersemangat menjalani hidup. Tidak ada satu pun keluhan yang terbersit dari kata-kata maupun bahasa tubuh.
Beliau membuatku bercermin pada diri sendiri, betapa sering aku mengeluh hanya karena owen tidur terlalu malam, sehingga istirahatku kurang, dan tubuh terasa "sedikit" lebih lelah; padahal beliau tentu merasa lelah sepanjang waktu. Betapa sering juga aku mengeluh bahwa hubby kurang perhatian; sementara beliau masih harus mengurus diri sendiri di tengah penyakitnya. Sering pula aku lupa bersyukur atas karunia dua anak-anak sehat dan lucu yang kupunya, yang bisa kucintai dan mencintaiku tanpa syarat dan tanpa batas - dan kadang mengeluh atas kurangnya "me time" yang kupunya. Betapa banyak keterbatasan beliau di tengah penyakitnya, namun toh tetap mengusahakan untuk mengikuti sholat jumat di mesjid; sementara aku sering membuang waktu dalam kemalasan.
Biarlah kututup cerita ini dengan puisi desiderata, yang kurasa cukup menggambarkan semangat hidup Bapak I ini:
Desiderata
Go placidly amid the noise and haste, and remember what peace there may be in silence.
As far as possible without surrender be on good terms with all persons.
Speak your truth quietly and clearly; and listen to others, even the dull and ignorant; they too have their story.
Avoid loud and aggressive persons, they are vexations to the spirit.
If you compare yourself with others, you may become vain and bitter;
for always there will be greater and lesser persons than yourself.
Enjoy your achievements as well as your plans.
Keep interested in your career, however humble; it is a real possession in the changing fortunes of time.
Exercise caution in your business affairs; for the world is full of trickery.
But let this not blind you to what virtue there is; many persons strive for high ideals;
and everywhere life is full of heroism.
Be yourself.
Especially, do not feign affection.
Neither be critical about love; for in the face of all aridity and disenchantment it is as perennial as the grass.
Take kindly the counsel of the years, gracefully surrendering the things of youth.
Nurture strength of spirit to shield you in sudden misfortune. But do not distress yourself with imaginings.
Many fears are born of fatigue and loneliness. Beyond a wholesome discipline, be gentle with yourself.
You are a child of the universe, no less than the trees and the stars;
you have a right to be here.
And whether or not it is clear to you, no doubt the universe is unfolding as it should.
Therefore be at peace with God, whatever you conceive Him to be,
and whatever your labors and aspirations, in the noisy confusion of life keep peace with your soul.
With all its sham, drudgery and broken dreams, it is still a beautiful world. Be careful. Strive to be happy.
© Max Ehrmann 1927
Rabu, 30 Januari 2013
Welcoming my little angel, Vimala Dharani Rianto
22 januari 2013
Malam-malam, kok ngerasa perut agak ga enak ya. Kandungan dede memang sudah memasuki minggu ke-38. Jam 9 malam, merasa panik sendiri setelah sempat mules beberapa kali. Tapi setelah telp dengan mba tatat, rasanya ini bukan kontraksi mau melahirkan. . Mungkin hanya kecapean karena 2 hari ini banyak pergi-pergi dan menghabiskan waktu bermacet ria di mobil. Sampai pagi, untung tidak mules lagi. Sebenarnya tidak apa-apa juga kalau mau melahirkan, toh sudah 38 minggu, tapi tetap saja, sempat terucap juga, de, jangan lahir dulu ya..minggu depan saja, kerjaan mama masih belum beres, :(.
23 januari 2013
Di kantor seperti biasa. Perutku juga sempat terasa tidak enak, mules beberapa kali, tapi tanpa frekuensi yang jelas. mungkin ini kontraksi palsu.
24 januari 2013
Hari libur, menghabiskan waktu di rumah. Belanja bulanan. tidak ada perkembangan kontraksi
25 januari 2013
Kerja lagi. Sampai sore, jam 6, kerjaan tetap belum selesai juga, huhuhu...malamnya kontrol ke dokter. Sempat merasa terancam dengan kemungkinan induksi lagi jika minggu drpan belum lahiran juga...*panik....
26 januari 2013
Terbangun jam 1 dini hari, perut terasa sakit. Ke kamar mandi, pikirku mungkin mau pup (n sempat pup juga si, hehe)
Bikin susu buat owen, tidur lagi
jam 02.00. terbangun lagi, perut sakit lagi
jam 03.00. lagi-lagi sakit
jam 04.00. terbangun, dan tidak bisa tidur lagi. perut sakitnya semakin sering. masih berpikir mungkin karena mau pup.
Eka pun terbangun, dan ngajak ke rumah sakit. Aku masih ragu-ragu, karena rasa sakitnya belum terlalu hebat, dan frekuensinya pun tidak teratur seperti kata orang, mula-mula sejam, setengah jam, 15 menit, lalu 10 menit. Mulai jam 04 ini, tiba-tiba kadang-kadang 5 menit, trus sepuluh menit, tidak teratur. Aku ngusulin gimana kalau ke bidan dekat rumah saja, ngecek dulu apakah benar ini kontraksi mau melahirkan. Eka tidak setuju, karena selama ini ga pernah kontrol ke bidan, ga enak juga tiba-tiba datang, pagi-pagi subuh pula.
Jam 5 kurang, akhirnya berangkat ke hermina, setelah menjemput neneknya owen buat nemainin owen yang masih tidur.
Sampai hermina, langsung di bawah ke ruang persalinan (namanya VK), dicek sama bidan, eng ing eng..sudah bukaan 3-4. Astaga naga..
dipasang alat CTG, lalu rekam jantung bayi cukup lama...20-30 menitan.
Tanya suster, dokter yudianto sudah dihubungi belum? Katanya sudah, dktrnya kebetulan ada jadwal caesar jam 05.30 pagi itu. Syukur, pas banget, jadi ga akan nanti mau lahiran nunggu-nunggu dokter.
jam 6-an, dr. Yudianto datang, ga ngapa2in, cuma bilang, sabar ya. Ya iyalah, kalau ga sabar, mau gimana lagi dok....tapi paling ga lega, sudah yakin dokternya sudah stand by.
jam 7an..sudah bukaan 8-9. disuruh ngeden, tak lama pecah ketuban. Setelah itu proses seakan lambat banget, padahal sakitnya sudah semakin kuat. Katanya kepala bayinya belum turun. Tapi sakitnya memang tak seberapa dibanding waktu ngelahirin owen dulu. Sakit diinduksi memang jauh lebih sakit.
Jam 07.40an..pas ngeden, tiba-tiba kepala dede sudah muncul, eh..sama suster nya disuruh nahan, nunggu dokter dulu..wah, mana bisa sus...dianya mau keluar sendiri, haha..alhasil, pas dokter datang, kepala dede udah nongol, tinggal keluarin badannya aja. Akhirnya jam 07.48, dede Vimala lahir...langsung imd, sambil dokternya keluarin placenta, pasang IUD, dan jahit. Terasa banget bedanya dibanding ditangani dr. N pas lahiran owen. dulu dktrnya jahit sambl telp-an. Ini, dr. Yudi ngerjain sambil benar-benar perhatian, minta maaf setiap kali prosesnya bikin ga nyaman.
Lega sekali rasanya. Prosesnya cepat, lancar, hanya sayang imdnya ga sampai berhasil mencapai puting susu. Kata suster si, memang jarang yang sampai berhasil, kecuali dibantuin karena ga sabar. Tapi yang penting prosesnya kok.
Dede lahir 2,788 kg, panjang 46 cm, di 39 minggu.
di tulisan ini, mau mengucapkan terimakasih buat :
- Papa owen dan vimala, yang udah sabar dan selalu siaga dari sejak kehamilan owen, lahiran owen, kehamilan hingga kelahiran vimala.
- Dr. Yudianto, yang udah nangani kehamilan vimala sejak awal, yang udah bantuin banyak banget, baek moral maupun materi (selalu gratis dari kontrol hingga proses lahiran juga). Terasa banget bedanya kehamilan ini, kontrol ga pernah galau, selalu dapat jawaban. beda banget ma kehamilan owen yang ketemu dr. kandungan yang aneh-aneh bin ajaib, yang bikin sakit hati dan was-was tiap kontrol. So lucky..
- Para suster dan bidan di VK RS. Hermina Bekasi yang udah sabar-sabar
- Owen, yang udah ditinggalin selama lahiran, dan jadi anak baik
- Kakek dan Nenek Owen yang udah perhatian banget, dan mau dititipin owen selama masa-masa sibuk.
- Mba Ros, Mina, dan Kus yang udah ngebantuin jagain owen dan beresin Rumah. Trims khusus buat Mina yang udah banyak banget bntuin selama hamil kali ini,sehingga diet selama hamil bisa terjaga baik.
- semua keluarga dan teman-teman yang udah bantuin..
Haha..moga-moga tidak terasa lebay...
Sekarang dede sedang kuning dan masih disinar. Doain dede Vimala cepat sehat dan pulang ke rumah ya....
Malam-malam, kok ngerasa perut agak ga enak ya. Kandungan dede memang sudah memasuki minggu ke-38. Jam 9 malam, merasa panik sendiri setelah sempat mules beberapa kali. Tapi setelah telp dengan mba tatat, rasanya ini bukan kontraksi mau melahirkan. . Mungkin hanya kecapean karena 2 hari ini banyak pergi-pergi dan menghabiskan waktu bermacet ria di mobil. Sampai pagi, untung tidak mules lagi. Sebenarnya tidak apa-apa juga kalau mau melahirkan, toh sudah 38 minggu, tapi tetap saja, sempat terucap juga, de, jangan lahir dulu ya..minggu depan saja, kerjaan mama masih belum beres, :(.
23 januari 2013
Di kantor seperti biasa. Perutku juga sempat terasa tidak enak, mules beberapa kali, tapi tanpa frekuensi yang jelas. mungkin ini kontraksi palsu.
24 januari 2013
Hari libur, menghabiskan waktu di rumah. Belanja bulanan. tidak ada perkembangan kontraksi
25 januari 2013
Kerja lagi. Sampai sore, jam 6, kerjaan tetap belum selesai juga, huhuhu...malamnya kontrol ke dokter. Sempat merasa terancam dengan kemungkinan induksi lagi jika minggu drpan belum lahiran juga...*panik....
26 januari 2013
Terbangun jam 1 dini hari, perut terasa sakit. Ke kamar mandi, pikirku mungkin mau pup (n sempat pup juga si, hehe)
Bikin susu buat owen, tidur lagi
jam 02.00. terbangun lagi, perut sakit lagi
jam 03.00. lagi-lagi sakit
jam 04.00. terbangun, dan tidak bisa tidur lagi. perut sakitnya semakin sering. masih berpikir mungkin karena mau pup.
Eka pun terbangun, dan ngajak ke rumah sakit. Aku masih ragu-ragu, karena rasa sakitnya belum terlalu hebat, dan frekuensinya pun tidak teratur seperti kata orang, mula-mula sejam, setengah jam, 15 menit, lalu 10 menit. Mulai jam 04 ini, tiba-tiba kadang-kadang 5 menit, trus sepuluh menit, tidak teratur. Aku ngusulin gimana kalau ke bidan dekat rumah saja, ngecek dulu apakah benar ini kontraksi mau melahirkan. Eka tidak setuju, karena selama ini ga pernah kontrol ke bidan, ga enak juga tiba-tiba datang, pagi-pagi subuh pula.
Jam 5 kurang, akhirnya berangkat ke hermina, setelah menjemput neneknya owen buat nemainin owen yang masih tidur.
Sampai hermina, langsung di bawah ke ruang persalinan (namanya VK), dicek sama bidan, eng ing eng..sudah bukaan 3-4. Astaga naga..
dipasang alat CTG, lalu rekam jantung bayi cukup lama...20-30 menitan.
Tanya suster, dokter yudianto sudah dihubungi belum? Katanya sudah, dktrnya kebetulan ada jadwal caesar jam 05.30 pagi itu. Syukur, pas banget, jadi ga akan nanti mau lahiran nunggu-nunggu dokter.
jam 6-an, dr. Yudianto datang, ga ngapa2in, cuma bilang, sabar ya. Ya iyalah, kalau ga sabar, mau gimana lagi dok....tapi paling ga lega, sudah yakin dokternya sudah stand by.
jam 7an..sudah bukaan 8-9. disuruh ngeden, tak lama pecah ketuban. Setelah itu proses seakan lambat banget, padahal sakitnya sudah semakin kuat. Katanya kepala bayinya belum turun. Tapi sakitnya memang tak seberapa dibanding waktu ngelahirin owen dulu. Sakit diinduksi memang jauh lebih sakit.
Jam 07.40an..pas ngeden, tiba-tiba kepala dede sudah muncul, eh..sama suster nya disuruh nahan, nunggu dokter dulu..wah, mana bisa sus...dianya mau keluar sendiri, haha..alhasil, pas dokter datang, kepala dede udah nongol, tinggal keluarin badannya aja. Akhirnya jam 07.48, dede Vimala lahir...langsung imd, sambil dokternya keluarin placenta, pasang IUD, dan jahit. Terasa banget bedanya dibanding ditangani dr. N pas lahiran owen. dulu dktrnya jahit sambl telp-an. Ini, dr. Yudi ngerjain sambil benar-benar perhatian, minta maaf setiap kali prosesnya bikin ga nyaman.
Lega sekali rasanya. Prosesnya cepat, lancar, hanya sayang imdnya ga sampai berhasil mencapai puting susu. Kata suster si, memang jarang yang sampai berhasil, kecuali dibantuin karena ga sabar. Tapi yang penting prosesnya kok.
Dede lahir 2,788 kg, panjang 46 cm, di 39 minggu.
di tulisan ini, mau mengucapkan terimakasih buat :
- Papa owen dan vimala, yang udah sabar dan selalu siaga dari sejak kehamilan owen, lahiran owen, kehamilan hingga kelahiran vimala.
- Dr. Yudianto, yang udah nangani kehamilan vimala sejak awal, yang udah bantuin banyak banget, baek moral maupun materi (selalu gratis dari kontrol hingga proses lahiran juga). Terasa banget bedanya kehamilan ini, kontrol ga pernah galau, selalu dapat jawaban. beda banget ma kehamilan owen yang ketemu dr. kandungan yang aneh-aneh bin ajaib, yang bikin sakit hati dan was-was tiap kontrol. So lucky..
- Para suster dan bidan di VK RS. Hermina Bekasi yang udah sabar-sabar
- Owen, yang udah ditinggalin selama lahiran, dan jadi anak baik
- Kakek dan Nenek Owen yang udah perhatian banget, dan mau dititipin owen selama masa-masa sibuk.
- Mba Ros, Mina, dan Kus yang udah ngebantuin jagain owen dan beresin Rumah. Trims khusus buat Mina yang udah banyak banget bntuin selama hamil kali ini,sehingga diet selama hamil bisa terjaga baik.
- semua keluarga dan teman-teman yang udah bantuin..
Haha..moga-moga tidak terasa lebay...
Sekarang dede sedang kuning dan masih disinar. Doain dede Vimala cepat sehat dan pulang ke rumah ya....
Rabu, 10 Oktober 2012
Momen-momen penting
19 Juni 1982 - 31 Mei 2000 - 2004 - 19 September 2005 - 19 Agustus 2006 - 19 Maret 2007 - 19 Juni 2007 - 27 Desember 2009 - 08 Juli 2011 - 20 Juni 2012 -
Itu tadi beberapa momentum dalam hidupku. Yah, yang terakhir-terakhir memang terjadi belakangan, beberapa tahun terakhri, seakan-akan hidupku 18 tahun sebelumnya tak berarti, :). Tapi tidak begitu, hanya saja, momen-momen itu terasa sudah sangat jauh, dan detailnya pun aku sudah lupa. Kapan-kapan mau membongkar diary-diary lama dari zaman SD, biar ingat lagi.
31 Mei 2000 -- Pertama kali keluar rumah, pindah ke Bandung dengan gagah berani, bersama Pince, Xia, dan Jen, teman SMA-ku. Di bandung si, kami tidak benar-benar sendiri, tapi sudah ada senior2 SMP mereka bertiga yang sudah lebih dahulu kuliah di bandung (aku ga kenal satupun). Tapi 1 bulan di bandung bersama-sama mengakrabkan kami semua, memicu beberapa perselisahan juga. Maklumlah, masih ababil waktu itu. Yang kuingat banget adalah hari pertama nyampe Bandung, rasanya pengen nangiiiis..kangen rumah, pengen pulang saja. Tapi hari kedua, sudah sirna semuanya,dan sejak itu, aku tidak pernah menoleh kembali, dan tidak pernah menyesali keputusanku kuliah jauh dari rumah. Tapi sebulan di bandung itu juga pelajaran berharga buat kami. Entah kami terlalu bersenang-senang, atau memang mungkin sudah takdir jalan kami begitu, Pince, Xia, dan Jen gagal UMPTN dan aku sendiri hanya bisa terdampar di Jatinangor. Lenyap sudah semua impian kuliah di Fisika dan Astronomi ITB.
2004 - Lulus Kuliah Farmasi
2005 - Lulus Kuliah Profesi Apoteker
19 September 2005 - Masuk kerja pertama kali, dan masih di sini sampai hari ini..sudah setia, atau memang kurang bergairah untuk pindah, haha..
19 Agustus 2006 - Bertemu "dia" untuk pertama kali. Sebenarnya tidak bisa dibilang benar-benar bertemu dan berkenalan si. Tapi ini adalah hari pertama dari Retret Pemula Dharmajala angkatan IX, yang aku dan dia sama-sama jadi pesertanya. Dan dari retret ini pula, akhirnya kami saling mengenal, dan kemudian cerita kami bergulir. Aku juga tidak tahu apa yang membuat kami bisa dekat, mungkin ini yang namanya jodoh ya. Secara itu kan acara retret, dan we are not supposed to talk to each other during the 3 days. Tapi dia ntah kenapa tiba-tiba mengajakku bicara, dan akhirnya aku pun kegeeran, :D. Sampai sekarang, aku tidak tahu apa yang mendorong dia melakukan itu, mungkin dia sebenarnya begitu ke semua orang, dan aku yang kegeeran, hahaha.
19 Maret 2007 - Kami "jadian" (terdengar sangat ABG sekali), padahal aku sudah lumayan tua saat itu, sudah 25 tahun.
19 Juni 2007 - Kami merayakan ulang tahun bersama, untuk pertama kali.
29 Desember 2009 - Our Wedding day
08 Juli 2011 - Our first precious blessing was granted to us, Owen. Sampai sekarang, belum hilang rasa takjub dan syukur, bisa memiliki Owen, yang lucu, cakep (turunan dari mana ya), I love him so much.
20 Juni 2012 - Pertama kali tahu bahwa aku hamil untuk kedua kalinya, dan saat ini sudah berusia hampir 6 bulan kandungannya. It's a baby girl...and I am gratefully happy for that.
Hidup membawa banyak hal indah untukku, yang kadang kupikir tidak pantas kuterima. Semoga aku bisa belajar menjadi lebih baik, menjadi lebih layak dan bersyukur untuk menerima kebahagiaan-kebahagiaan ini.
Itu tadi beberapa momentum dalam hidupku. Yah, yang terakhir-terakhir memang terjadi belakangan, beberapa tahun terakhri, seakan-akan hidupku 18 tahun sebelumnya tak berarti, :). Tapi tidak begitu, hanya saja, momen-momen itu terasa sudah sangat jauh, dan detailnya pun aku sudah lupa. Kapan-kapan mau membongkar diary-diary lama dari zaman SD, biar ingat lagi.
31 Mei 2000 -- Pertama kali keluar rumah, pindah ke Bandung dengan gagah berani, bersama Pince, Xia, dan Jen, teman SMA-ku. Di bandung si, kami tidak benar-benar sendiri, tapi sudah ada senior2 SMP mereka bertiga yang sudah lebih dahulu kuliah di bandung (aku ga kenal satupun). Tapi 1 bulan di bandung bersama-sama mengakrabkan kami semua, memicu beberapa perselisahan juga. Maklumlah, masih ababil waktu itu. Yang kuingat banget adalah hari pertama nyampe Bandung, rasanya pengen nangiiiis..kangen rumah, pengen pulang saja. Tapi hari kedua, sudah sirna semuanya,dan sejak itu, aku tidak pernah menoleh kembali, dan tidak pernah menyesali keputusanku kuliah jauh dari rumah. Tapi sebulan di bandung itu juga pelajaran berharga buat kami. Entah kami terlalu bersenang-senang, atau memang mungkin sudah takdir jalan kami begitu, Pince, Xia, dan Jen gagal UMPTN dan aku sendiri hanya bisa terdampar di Jatinangor. Lenyap sudah semua impian kuliah di Fisika dan Astronomi ITB.
2004 - Lulus Kuliah Farmasi
2005 - Lulus Kuliah Profesi Apoteker
19 September 2005 - Masuk kerja pertama kali, dan masih di sini sampai hari ini..sudah setia, atau memang kurang bergairah untuk pindah, haha..
19 Agustus 2006 - Bertemu "dia" untuk pertama kali. Sebenarnya tidak bisa dibilang benar-benar bertemu dan berkenalan si. Tapi ini adalah hari pertama dari Retret Pemula Dharmajala angkatan IX, yang aku dan dia sama-sama jadi pesertanya. Dan dari retret ini pula, akhirnya kami saling mengenal, dan kemudian cerita kami bergulir. Aku juga tidak tahu apa yang membuat kami bisa dekat, mungkin ini yang namanya jodoh ya. Secara itu kan acara retret, dan we are not supposed to talk to each other during the 3 days. Tapi dia ntah kenapa tiba-tiba mengajakku bicara, dan akhirnya aku pun kegeeran, :D. Sampai sekarang, aku tidak tahu apa yang mendorong dia melakukan itu, mungkin dia sebenarnya begitu ke semua orang, dan aku yang kegeeran, hahaha.
19 Maret 2007 - Kami "jadian" (terdengar sangat ABG sekali), padahal aku sudah lumayan tua saat itu, sudah 25 tahun.
19 Juni 2007 - Kami merayakan ulang tahun bersama, untuk pertama kali.
29 Desember 2009 - Our Wedding day
08 Juli 2011 - Our first precious blessing was granted to us, Owen. Sampai sekarang, belum hilang rasa takjub dan syukur, bisa memiliki Owen, yang lucu, cakep (turunan dari mana ya), I love him so much.
20 Juni 2012 - Pertama kali tahu bahwa aku hamil untuk kedua kalinya, dan saat ini sudah berusia hampir 6 bulan kandungannya. It's a baby girl...and I am gratefully happy for that.
Hidup membawa banyak hal indah untukku, yang kadang kupikir tidak pantas kuterima. Semoga aku bisa belajar menjadi lebih baik, menjadi lebih layak dan bersyukur untuk menerima kebahagiaan-kebahagiaan ini.
Jumat, 13 April 2012
Rasa ini
Belakangan ini, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hati, yang ingin kuungkapkan, tetapi aku merasa dia tidak mampu atau mau memahami. Semoga aku tidak tampak mengeluh, aku hanya ingin berekspresi.
Yang paling utama kurasa adalah betapa aku sangat sendirian, tak ada orang di dunia ini yang bisa kuandalkan, tidak pula dia. Di atas segalanya adalah aku merasa dia tidak akan memihak padaku di saat-saat genting, aku merasa sendiri, dan hatiku terpicu untuk segera mandiri, secara fisik dan hati. Tapi tak mudah tentu. Aku merasa kalah dan tak lagi punya semangat untuk mencoba berperang. Aku menarik diri, tapi ada tali yang mengikat kakiku di sana, aku tak bisa pergi, tetapi aku tetap sendiri.
Yang paling utama kurasa adalah betapa aku sangat sendirian, tak ada orang di dunia ini yang bisa kuandalkan, tidak pula dia. Di atas segalanya adalah aku merasa dia tidak akan memihak padaku di saat-saat genting, aku merasa sendiri, dan hatiku terpicu untuk segera mandiri, secara fisik dan hati. Tapi tak mudah tentu. Aku merasa kalah dan tak lagi punya semangat untuk mencoba berperang. Aku menarik diri, tapi ada tali yang mengikat kakiku di sana, aku tak bisa pergi, tetapi aku tetap sendiri.
(Lagi-lagi) blog baru
Agaiinn...untuk kesekian kalinya, aku membuat blog baru, hahahaha....nasibnya kurang lebih sama dengan buku-buku harianku beberapa tahun terakhir ini, hangat terisi saat baru beli, dan teronggok begitu saja setelah beberapa minggu, sebelum beli yang baru (lagi...).
Moga-moga blog yang baru ini tidak ya. Aku sudah berusaha merancangnya sebaik mungkin, agar aku betah berlama-lama. Sebenarnya aku terinspirasi setelah membaca blog anggit, yang membuatku menyadari sudah banyak sekali moment terlewat begitu saja, yang seharusnya bisa menjadi kenangan yang lebih indah lewat tulisan yang abadi ini, yang bisa kubaca lagi-lagi nanti..
Happy writing...cemungudzzz....(ababil)
Moga-moga blog yang baru ini tidak ya. Aku sudah berusaha merancangnya sebaik mungkin, agar aku betah berlama-lama. Sebenarnya aku terinspirasi setelah membaca blog anggit, yang membuatku menyadari sudah banyak sekali moment terlewat begitu saja, yang seharusnya bisa menjadi kenangan yang lebih indah lewat tulisan yang abadi ini, yang bisa kubaca lagi-lagi nanti..
Happy writing...cemungudzzz....(ababil)
Langganan:
Postingan (Atom)